Mangga adalah buah batu yang dapat dimakan, yang dihasilkan oleh pohon tropis Mangifera indica. Buah ini berasal dari bagian timur laut anak benua India, tepatnya di wilayah yang sekarang menjadi Bangladesh, India bagian timur laut, dan Myanmar. M. indica telah dibudidayakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara sejak zaman kuno, yang menghasilkan dua garis keturunan kultivar mangga modern: tipe "India" dan tipe "Asia Tenggara". Spesies lain dalam genus Mangifera juga menghasilkan buah yang dapat dimakan yang disebut "mangga", yang sebagian besar ditemukan di ekoregion Malesia.
Terdapat beberapa ratus kultivar mangga di seluruh dunia. Bergantung pada kultivarnya, buah mangga bervariasi dalam ukuran, bentuk, tingkat kemanisan, warna kulit, dan warna daging buahnya, yang mungkin berwarna kuning pucat, emas, hijau, atau jingga. Mangga adalah buah nasional dari India, Pakistan, dan Filipina, sementara pohon mangga merupakan pohon nasional Bangladesh.
Etimologi
Nama "mangga" berasal dari bahasa Tamil: மாங்காய் (mankay), yang berarti man "pohon mangga" + kay "buah"."mango | Origin and meaning of mango by Online Etymology Dictionary". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-05-02.</ref> Kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Spanyol dan Inggris) dan lainnya. Nama ilmiahnya, Mangifera indica, dapat diterjemahkan sebagai "tanaman yang menghasilkan mangga di India".
Deskripsi




Pohon mangga tumbuh hingga setinggi 30–40 meter (98–131 kaki), dengan jari-jari tajuk mencapai 10–15 m (33–49 ft). Pohon ini berumur panjang, karena beberapa spesimen masih berbuah setelah 300 tahun.
Di tanah yang dalam, akar tunggang turun hingga kedalaman 6 m (20 ft), dengan akar pencari makan yang lebat dan menyebar luas serta akar jangkar yang menembus dalam ke tanah. Daunnya bersifat hijau abadi, berselang-seling, tunggal, dengan panjang 15–35 sentimeter (6–14 inci), dan lebar 6–16 cm (2+1⁄2–6+1⁄2 in); saat masih muda daunnya berwarna merah muda kejinggaan, yang dengan cepat berubah menjadi merah tua mengilap, lalu menjadi hijau tua saat menua. Bunganya dihasilkan dalam malai terminal dengan panjang 10–40 cm (4–15+1⁄2 in); setiap bunga berukuran kecil dan berwarna putih dengan lima kelopak bunga yang panjangnya 5–10 milimeter (3⁄16–3⁄8 in), dan memiliki aroma manis yang lembut. Lebih dari 500 varietas mangga telah diketahui, yang banyak di antaranya matang pada musim panas, sementara beberapa varietas menghasilkan panen ganda. Buahnya membutuhkan waktu empat hingga lima bulan dari masa berbunga hingga matang.
Buah yang matang bervariasi bergantung pada kultivarnya dalam hal ukuran, bentuk, warna, tingkat kemanisan, dan kualitas saat dimakan. Bergantung pada kultivarnya, warna buah dapat berupa kuning, jingga, merah, atau hijau. Buah ini memiliki satu biji (pelok) pipih berbentuk lonjong yang permukaannya dapat berserat atau berbulu dan tidak mudah dipisahkan dari daging buahnya. Buahnya dapat berbentuk agak bulat, oval, atau seperti ginjal, dengan panjang berkisar dari 5–25 sentimeter (2–10 in) dan berat dari 140 gram (5 oz) hingga 2 kilogram (5 pon) per individu buah. Kulitnya seperti kulit hewan, berlilin, halus, dan harum, dengan warna yang berkisar dari hijau hingga kuning, kuning-jingga, kuning-merah, atau merona dengan berbagai corak merah, ungu, merah muda, atau kuning saat matang sepenuhnya.
Mangga utuh yang matang mengeluarkan bau manis beresin yang khas. Di dalam pelok dengan endokarp berkayu setebal 1–2 mm (0,039–0,079 in) terdapat biji tunggal, dengan panjang 4–7 cm (1,6–2,8 in). Mangga memiliki biji rekalsitran yang tidak dapat bertahan hidup dari pembekuan dan pengeringan. Pohon mangga tumbuh dengan mudah dari biji, dengan keberhasilan perkecambahan tertinggi ketika biji diperoleh dari buah yang matang.
Taksonomi



Mangga berasal dari wilayah antara Myanmar barat laut, Bangladesh, dan India bagian timur laut. Mangga dianggap sebagai anakronisme evolusioner, di mana penyebaran bijinya pernah dilakukan oleh hewan pencari makan evolusioner yang kini telah punah, seperti mamalia megafauna.
Dari pusat asalnya, mangga menyebar menjadi dua populasi yang secara genetik berbeda: kelompok India subtropis dan kelompok Asia Tenggara tropis. Kelompok India dicirikan dengan memiliki buah monoembrionik, sementara kelompok Asia Tenggara dicirikan dengan buah poliembrionik.
Sebelumnya diyakini bahwa mangga berasal dari peristiwa domestikasi tunggal di Asia Selatan sebelum menyebar ke Asia Tenggara, tetapi sebuah studi pada tahun 2019 tidak menemukan bukti adanya pusat keragaman di India. Sebaliknya, studi tersebut mengidentifikasi keragaman genetik unik yang lebih tinggi pada kultivar Asia Tenggara dibandingkan kultivar India, yang menunjukkan bahwa mangga mungkin awalnya didomestikasi di Asia Tenggara terlebih dahulu sebelum diperkenalkan ke Asia Selatan. Namun, para penulis memperingatkan bahwa keragaman pada mangga Asia Tenggara mungkin merupakan hasil dari alasan lain (seperti hibridisasi interspesifik dengan spesies Mangifera lain yang asli di ekoregion Malesia). Meskipun demikian, keberadaan dua populasi genetik berbeda yang diidentifikasi oleh studi tersebut menunjukkan bahwa domestikasi mangga lebih kompleks dari yang diasumsikan sebelumnya dan setidaknya akan mengindikasikan peristiwa domestikasi ganda di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Kultivar
Terdapat ratusan kultivar mangga yang telah diberi nama. Di kebun mangga, beberapa kultivar sering kali ditanam bersamaan untuk meningkatkan penyerbukan. Banyak kultivar yang diinginkan bersifat monoembrionik dan harus diperbanyak dengan cara grafting, atau kultivar tersebut tidak akan menghasilkan keturunan yang sama persis dengan induknya. Kultivar monoembrionik yang umum adalah 'Alphonso', produk ekspor penting, yang dianggap sebagai "raja mangga".
Kultivar yang tumbuh sangat baik di satu iklim mungkin akan gagal di tempat lain. Misalnya, kultivar India seperti 'Julie,' kultivar yang produktif di Jamaika, memerlukan perawatan fungisida tahunan untuk menghindari penyakit jamur antraknosa yang mematikan di Florida. Mangga Asia memiliki ketahanan terhadap antraknosa.
Pasar barat saat ini didominasi oleh kultivar 'Tommy Atkins', bibit dari 'Haden' yang pertama kali berbuah pada tahun 1940 di Florida bagian selatan dan awalnya ditolak secara komersial oleh para peneliti Florida. Para petani dan importir di seluruh dunia telah menerima kultivar ini karena produktivitasnya yang sangat baik serta ketahanan terhadap penyakit, umur simpan, kemampuan transportasi, ukuran, dan warnanya yang menarik. Meskipun kultivar Tommy Atkins sukses secara komersial, konsumen mungkin lebih menyukai kultivar lain untuk kenikmatan saat memakannya, seperti Alphonso.
Persebaran dan habitat
Dari wilayah Asia tropis, mangga diperkenalkan ke Afrika Timur oleh para pedagang Arab dan Persia pada abad kesembilan hingga kesepuluh. Pelancong Maroko pada abad ke-14, Ibnu Batutah, melaporkan keberadaan mangga di Mogadishu. Buah ini kemudian menyebar lebih jauh ke wilayah lain di seluruh dunia selama Era Kolonial. Imperium Portugis menyebarkan mangga dari koloni mereka di Goa ke Afrika Timur dan Barat. Dari Afrika Barat, mereka memperkenalkannya ke Brasil dari abad ke-16 hingga ke-17. Dari Brasil, mangga menyebar ke utara hingga Karibia dan Meksiko bagian timur pada pertengahan hingga akhir abad ke-18. Kekaisaran Spanyol juga memperkenalkan mangga secara langsung dari Filipina ke Meksiko bagian barat melalui galiun Manila setidaknya sejak abad ke-16. Mangga baru diperkenalkan ke Florida pada tahun 1833.
Budidaya




Mangga dibudidayakan di sebagian besar iklim tropis dan subtropis hangat yang bebas embun beku. Pohon ini dibudidayakan secara ekstensif di Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika Timur dan Barat, benua Amerika tropis dan subtropis, serta Karibia. Mangga juga ditanam di Andalusia, Spanyol (terutama di provinsi Málaga), karena iklim subtropis pesisirnya merupakan salah satu dari sedikit tempat di daratan utama Eropa yang memungkinkan pertumbuhan tanaman dan pohon buah tropis. Kepulauan Canaria adalah wilayah penghasil buah ini lainnya yang terkenal di Spanyol. Pembudidaya minor lainnya meliputi Amerika Utara (di Florida Selatan dan Lembah Coachella di California), Hawaii, dan Australia.
Banyak kultivar komersial yang ditanam di Eropa disambung pada batang bawah kultivar mangga Gomera-1 yang tahan dingin, yang aslinya berasal dari Kuba. Sistem akarnya beradaptasi dengan baik terhadap iklim Mediterania pesisir.
Terobosan dalam budidaya mangga adalah penggunaan kalium nitrat dan etrel untuk menginduksi pembungaan pada mangga. Penemuan ini dilakukan oleh ahli hortikultura berkebangsaan Filipina, Ramon Barba, pada tahun 1974 dan dikembangkan dari metode tradisional unik untuk menginduksi pembungaan mangga menggunakan asap di Filipina. Hal ini memungkinkan perkebunan mangga untuk menginduksi pembungaan dan pembuahan secara teratur sepanjang tahun. Sebelumnya, mangga bersifat musiman karena hanya berbunga setiap 16 hingga 18 bulan sekali. Metode ini sekarang digunakan di sebagian besar negara penghasil mangga.
Penyakit
Pohon mangga rentan terhadap banyak penyakit, termasuk busuk alternaria, antraknosa, bintik hitam bakteri, dan embun tepung. Jaringan spons adalah gangguan pematangan yang berkorelasi dengan kekurangan kalsium dan dicirikan oleh daging buah yang kenyal seperti spons berwarna cokelat kehitaman yang dimulai dari dekat biji. Pada tahun 1989, kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 30% mangga Alphonso. Salah satu hama dalam budidaya buah ini adalah kutu putih mangga; hama ini mengisap getah dari perbungaan, yang menyebabkan berkurangnya pembentukan buah dan sangat merugikan produksi panen.
Produksi
Pada tahun 2023, produksi mangga, manggis, dan jambu biji dunia mencapai 61 juta ton, yang dipimpin oleh India dengan 43% dari total produksi, serta Indonesia dan Tiongkok sebagai produsen sekunder.
Kuliner






Mangga pada umumnya manis, meskipun rasa dan tekstur daging buahnya bervariasi antar kultivar; beberapa di antaranya, seperti Alphonso, memiliki tekstur yang lembut, berdaging tebal, dan banyak airnya mirip dengan prem yang terlalu matang, sementara yang lain, seperti Tommy Atkins, lebih padat dengan tekstur berserat.
Mangga digunakan dalam banyak masakan. Mangga yang asam dan masih mentah digunakan sebagai lauk-pauk dalam masakan India seperti cutney mangga dan acar seperti avakaya.
Minuman musim panas yang disebut aam panna dibuat dari mangga. Lassi mangga dikonsumsi di seluruh Asia Selatan, yang disiapkan dengan mencampur mangga matang atau daging buah mangga dengan susu mentega dan gula.
Dalam masakan Indonesia, mangga mentah diolah menjadi asinan, rujak, dan sambal pencit/mangga muda, atau dimakan bersama garam.
Mangga hijau mentah dapat diiris dan dimakan seperti selada. Di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, mangga ini lazim dimakan bersama kecap ikan, cuka, kecap asin, atau dengan taburan garam (tawar atau pedas) – kombinasi yang dalam bahasa Inggris biasanya dikenal sebagai "mango salad" (selada mangga). Di Filipina, mangga hijau dimakan dengan bumbu gurih seperti bagoong (ikan asin atau terasi), kecap asin, cuka, atau cabai. Mango float dan kue mangga, yang menggunakan irisan mangga matang, biasa dikonsumsi di Filipina.
Fitokimia

Berbagai macam fitokimia terdapat di dalam kulit dan daging buah mangga, seperti triterpena lupeol. Pigmen kulit mangga yang sedang diteliti meliputi karotenoid, seperti senyawa provitamin A, beta-karoten, lutein, dan alfa-karoten, serta polifenol, seperti kuarsetin, kaempferol, asam galat, asam kafeat, katekin, dan tanin. Mangga mengandung xanthonoid unik yang disebut mangiferin.
Kandungan fitokimia dan nutrisi tampaknya bervariasi antar kultivar mangga. Hingga 25 karotenoid berbeda telah diisolasi dari daging buah mangga, yang paling padat di antaranya adalah beta-karoten, yang menyumbang pigmentasi kuning-jingga pada sebagian besar kultivar mangga. Daun mangga juga memiliki kandungan polifenol yang signifikan, termasuk xanthonoid, mangiferin, dan asam galat.
Rasa
Rasa buah mangga diberikan oleh beberapa bahan kimia organik volatil (mudah menguap), terutama terpena, furanon, lakton, dan ester. Berbagai varietas atau kultivar mangga dapat memiliki rasa yang tersusun dari bahan kimia volatil yang berbeda atau bahan kimia volatil yang sama dalam jumlah yang berbeda. Secara umum, kultivar mangga Dunia Baru dicirikan oleh dominasi δ-3-karena, sebuah penyedap rasa monoterpena; sedangkan tingginya konsentrasi monoterpena lain seperti (Z)-osimena dan mirsena, serta keberadaan lakton dan furanon, merupakan ciri khas dari kultivar Dunia Lama. Di India, 'Alphonso' adalah salah satu kultivar yang paling populer. Pada mangga 'Alphonso', lakton dan furanon disintesis selama proses pematangan, sedangkan terpena dan penyedap rasa lainnya terdapat baik pada buah yang sedang berkembang (belum matang) maupun yang sedang matang. Etilena, hormon terkait pematangan yang dikenal luas terlibat dalam proses pematangan buah mangga, juga menyebabkan perubahan pada komposisi rasa buah mangga saat diaplikasikan secara eksogen. Berbeda dengan banyaknya informasi yang tersedia mengenai komposisi kimiawi rasa mangga, biosintesis bahan-bahan kimia ini belum dipelajari secara mendalam; hingga saat ini, hanya segelintir gen yang mengodekan enzim pada jalur biosintesis rasa yang telah dikarakterisasi.
Toksisitas
Kontak dengan minyak pada daun, batang, getah, dan kulit mangga dapat menyebabkan dermatitis dan anafilaksis pada individu yang rentan. Mereka yang memiliki riwayat dermatitis kontak yang dipicu oleh urushiol (alergen yang ditemukan pada poison ivy, poison oak, atau poison sumac) mungkin paling berisiko mengalami dermatitis kontak mangga. Senyawa mangga lainnya yang berpotensi menyebabkan dermatitis atau reaksi alergi meliputi mangiferin. Reaksi silang dapat terjadi antara alergen mangga dan urushiol. Individu yang sensitif mungkin tidak dapat memakan mangga yang telah dikupas atau meminum jus mangga dengan aman.
Ketika pohon mangga berbunga pada musim semi, penduduk setempat yang memiliki alergi mungkin mengalami kesulitan bernapas, mata gatal, atau pembengkakan pada wajah, bahkan sebelum serbuk sari bunga menyebar di udara. Dalam kasus ini, zat iritannya kemungkinan besar adalah minyak atsiri yang menguap dari bunga tersebut. Selama musim pematangan utama mangga, kontak dengan bagian-bagian tanaman mangga – terutama getah, daun, dan kulit buah – merupakan penyebab paling umum dari dermatitis tanaman di Hawaii.
Nutrisi
Mangga mentah mengandung 84% air, 15% karbohidrat, 1% protein, dan lemak yang dapat diabaikan (tabel). Dalam jumlah referensi 100 g (3,5 oz), mangga mentah menyuplai 60 kalori dan merupakan sumber vitamin C yang kaya (40% dari Nilai Harian, DV) dengan jumlah folat (11% DV) dan tembaga (12% DV) yang sedang, sementara kandungan mikronutrien lainnya tergolong rendah (tabel).
Budaya


Mangga adalah buah nasional India, Pakistan, dan Filipina. Pohon mangga merupakan pohon nasional Bangladesh. Di India, panen dan penjualan mangga berlangsung selama bulan Maret–Mei dan hal ini diliput setiap tahun oleh berbagai kantor berita. Di Tamil Nadu, mangga adalah satu dari tiga buah kerajaan, bersama dengan pisang dan nangka, karena rasa manis dan aromanya.
Mangga memiliki konteks tradisional dalam budaya Asia Selatan. Dalam maklumatnya, kaisar Maurya Asoka menyinggung penanaman pohon buah dan peneduh di sepanjang jalan kekaisaran dalam Maklumat Pilar Utama No.5 miliknya:
"Di jalan-jalan, pohon beringin telah kuperintahkan untuk ditanam, (agar) pohon-pohon itu dapat memberikan keteduhan bagi ternak dan manusia, (dan) kebun mangga juga telah kuperintahkan untuk ditanam."
Pada abad pertengahan di India, penyair Indo-Persia Amir Khusrau menyebut mangga sebagai "Naghza Tarin Mewa Hindustan" – "buah terindah di Hindustan". Kekaisaran Mughal sangat menyukai buah-buahan ini: kaisar Babur memuji mangga dalam Baburnama karyanya. Kaisar Mughal Akbar (1556–1605) dikatakan telah menanam kebun mangga berisi 100.000 pohon di dekat Darbhanga, Bihar. Bunga dan daun mangga digunakan dalam pemujaan dewi Hindu Saraswati pada festival musim semi Vasant Panchami. Daunnya digunakan sebagai dekorasi dalam perayaan Ganesh Chaturthi untuk dewa berkepala gajah Ganesha. Dewi Jain Ambika secara tradisional digambarkan duduk di bawah pohon mangga. Penyair Sanskerta klasik Kalidasa menyanyikan puji-pujian untuk mangga.
Pola Paisley, dengan motif berbentuk tetesan air mata atau boteh pada syal dan sari, dinamai berdasarkan mangga mentah dalam berbagai bahasa di anak benua India, seperti kalka dalam bahasa Bengali, ambi dalam bahasa Punjabi, dan kairi dalam bahasa Hindi. Novel tahun 1924 karya E. M. Forster, A Passage to India, menampilkan karakter Dr. Aziz yang menyarankan kepada karakter Inggris Cyril Fielding, "Untukmu aku akan mengatur seorang wanita dengan payudara seperti mangga". Mangga menjadi subjek kultus mangga di Tiongkok selama Revolusi Kebudayaan sebagai simbol kecintaan ketua Mao Zedong kepada rakyatnya.
Bacaan lanjutan
- Ensminger, Audrey H.; et al. (1995). The Concise Encyclopedia of Foods & Nutrition. CRC Press. hlm. 651. ISBN 978-0-8493-4455-8.
- Litz, Richard E. (editor, 2009). The Mango: Botany, Production and Uses. 2nd edition. CABI. ISBN 978-1-84593-489-7
- Susser, Allen (2001). The Great Mango Book: A Guide with Recipes. Ten Speed Press. ISBN 978-1-58008-204-4
Pranala luar
- Sorting Mangifera species
- Pine Island Nursery's Mango Variety viewer
