Tomiichi Murayama (村山 富市, Murayama Tomiichi, 3 Maret 1924 – 17 Oktober 2025) adalah seorang politikus dan Perdana Menteri Jepang yang ke-81, serta menduduki jabatan dari tanggal 30 Juni 1994 sampai 11 Januari 1996. Dia merupakan tokoh dan ketua Partai Demokratik Sosial yang terkenal karena pidato permintaan maafnya mengenai kekejaman tentara Jepang selama perang Dunia II pada peringatan ke-50 berakhirnya perang tersebut.
Kehidupan awal
Murayama lahir di Prefektur Ōita pada 3 Maret 1924; ayahnya adalah seorang nelayan. Ia merupakan anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia berusia empat belas tahun, sehingga ia harus mengantar koran dan bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kota Ōita pada tahun 1938, ia pindah ke Tokyo dan bekerja di pabrik percetakan pada siang hari, serta belajar di Sekolah Dagang Kota Tokyo pada malam hari.
Ia masuk Universitas Meiji pada tahun 1943 sebagai mahasiswa filsafat, tetapi pada tahun 1944 ia dimobilisasi dan ditugaskan bekerja di galangan kapal Ishikawajima. Pada tahun yang sama, ia direkrut menjadi tentara Angkatan Darat Kekaisaran dan ditempatkan di Infanteri ke-72 dari Brigade ke-23 Divisi ke-23 dengan pangkat prajurit dua. Ia dipulangkan setelah Jepang menyerah dengan pangkat calon perwira, dan mengakhiri perang sebagai kadet berpangkat sersan. Ia lulus dari Universitas Meiji pada tahun 1946, dan pada tahun 1948 ia menjadi sekretaris jenderal Liga Pemuda Desa Nelayan Prefektur Ōita. Setelah Aliansi Pemuda Desa Nelayan dibubarkan setelah meraih keberhasilan seperti mendirikan koperasi perikanan, ia kemudian bekerja sebagai sekretaris Serikat Pekerja Pegawai Prefektur Ōita.
Karier
Murayama pertama kali mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Kota Ōita pada 1951 namun kalah, lalu menang pada 1955 sebagai anggota Partai Sosialis Jepang dan terus terpilih hingga akhirnya menjadi anggota Majelis Prefektur Ōita pada 1963. Setelah sembilan tahun menjabat, ia terpilih menjadi anggota parlemen nasional pada 1972 dan bertahan selama sembilan kali pemilihan berikutnya.
Pada 1993, setelah Partai Demokrat Liberal kehilangan banyak kursi dan koalisi baru terbentuk, Murayama menggantikan Sadao Yamahana sebagai pemimpin Partai Sosialis Jepang. Setelah runtuhnya Kabinet Hosokawa dan Hata, Murayama menjalin kesepakatan dengan Yōhei Kōno untuk membentuk koalisi besar. Meskipun menghadapi penolakan dari beberapa tokoh Partai Demokrat Liberal, ia akhirnya memenangkan pemungutan suara di Majelis Rendah dan pada Juni 1994 menjadi Perdana Menteri Jepang — sosialis pertama sejak 1955. Kenaikannya digambarkan sebagai sesuatu yang mendadak dan tak terduga.
Perdana Menteri
Kabinet Murayama adalah pemerintahan koalisi, kadang digambarkan sebagai koalisi besar yang memainkan peran penting dalam mengakhiri konflik LDP-JSP yang kerap memanas dan mendominasi setiap pemilihan umum sebelumnya, bahkan ketika partai-partai ketiga mulai terbentuk pada tahun 1970-an dan 1980-an. Koalisi ini dideskripsikan oleh The New York Times sebagai "kesepakatan timpang yang membuat Tuan Murayama berada di bawah kendali Partai Demokrat Liberal."
Murayama merupakan perdana menteri terakhir yang lahir pada era Taishō.
Luar Negeri
Ketika Kabinet Murayama dibentuk, Presiden Amerika Serikat pada saat itu Bill Clinton sangat curiga terhadap perdana menteri dari Partai Sosialis. Pada Konferensi Tingkat Tinggi G7 ke-20 pada 1994, Murayama bercerita kepada Clinton mengenai masa kecilnya di sebuah kampung nelayan yang miskin dan proses yang membuatnya masuk ke dunia politik. Mendengar cerita tersebut, Clinton terkesima dan mulai memperlakukan Murayama dengan hangat. Sepanjang karirnya, Murayama tidak kerap ke luar negeri. Ia juga sangat gugup dalam mengikuti KTT tersebut, namun ia dapat melalui acara tersebut tanpa masalah. Mantan Perdana Menteri Kiichi Miyazawa memberikan saran sebelum Murayama berangkat ke KTT G7 di Napoli, "Disana akan ada penerjemah, jadi tidak usah takut soal bahasa".
Pada tanggal 20 Juli 1994, dalam pidato kebijakan pada sidang ke-130 Diet, ia menyatakan bahwa Pasukan Bela Diri adalah konstitusional dan bahwa Perjanjian Keamanan Jepang-AS akan dipertahankan; hal ini mengubah kebijakan Partai Sosialis Jepang yang berlaku sebelumnya dan menetapkan Perjanjian Keamanan Jepang-AS sebagai kebijakan mendasar. Saat itu, naskah pidato tertulis "Mempertahankan pengaturan keamanan Jepang-AS", namun dalam penyampaian kebijakan tersebut, Murayama membacakannya sebagai "Kami akan mempertahankan pengaturan keamanan Jepang-AS dengan teguh."
Ketika bertemu dengan delegasi pemerintahan Vietnam, delegasi Vietnam berkata kepada Murayama bahwa Vietnam berterima kasih kepada Jepang atas perkembangannya. Murayama menolak dan berkata, "Itu tidak benar. Pertama dan yang terutama, kalian ingin bekerja keras sampai membuat Vietnam menjadi apa pada saat ini. Jepang hanya membantu". Sejak mendengarkan perkataannya, delegasi Vietnam tersanjung dan memberi hormat kepada Murayama dan pertemuan antar keduanya menjadi lebih dari sekedar formalitas. Bahkan setelah Murayama pensiun dari politik ia kerap mengunjungi Vietnam.
Pengunduran diri
Murayama menyatakan pengunduran diri sebagai Perdana Menteri pada 5 Januari 1996 karena perjanjian politik dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) mengenai rotasi perdana menteri. Hal ini mengakibatkan Ryutaro Hashimoto dari LDP menjadi perdana menteri menggantikan Murayama. Murayama pada akhirnya pensiun dari politik pada tahun 2000.
Kehidupan akhir dan kematian
Pada tahun 2000, Murayama pensiun dari dunia politik. Pada tahun yang sama, ia bersama Mutsuko Miki melakukan perjalanan ke Korea Utara untuk mendorong hubungan bilateral yang lebih baik antara kedua negara.
Murayama kemudian menjadi presiden Dana Perempuan Asia, sebuah lembaga semi-pemerintah yang dibentuk untuk memberikan kompensasi kepada mantan wanita penghibur. Setelah menyalurkan kompensasi dan melaksanakan berbagai proyek, lembaga tersebut dibubarkan pada 31 Maret 2007.
Murayama genap berusia 100 tahun pada 3 Maret 2024. Ia meninggal pada 17 Oktober 2025 di sebuah rumah sakit di Ōita pada usia 101 tahun. Istrinya selama 71 tahun, Yoshie, meninggal pada tahun 2024. Ia meninggalkan dua anak, dua cucu, dan lima cicit.
Pranala luar
- Tomiichi Murayama di IMDb (dalam bahasa Inggris)
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Tsutomu Hata |
Perdana Menteri Jepang 1994–1996 |
Diteruskan oleh: Ryutaro Hashimoto |
| Jabatan partai politik | ||
| Jabatan baru | Ketua Partai Demokrat Sosial Jepang 1996 |
Diteruskan oleh: Takako Doi |
| Didahului oleh: Sadao Yamahana |
Ketua Partai Sosialis Jepang 1993–1996 |
Jabatan dihapus |
| Didahului oleh: Shun Ōide |
Ketua Dewan Urusan Parlemen, Partai Sosialis Jepang 1991–1993 |
Diteruskan oleh: Koken Nosaka |
| Jabatan diplomatik | ||
| Didahului oleh: Suharto |
Ketua APEC 1995 |
Diteruskan oleh: Fidel Ramos |
