Kota Samarinda merupakan sebuah bandar dan ibu kota provinsi daripada Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Bandar ini juga merupakan bandar dengan populasi terbesar di pulau Kalimantan, dengan populasi seramai 893,385 orang (2025). Samarinda mempunyai keluasan 783 km² dengan keadaan geografi berbukit-bukit dengan ketinggian yang berbeza-beza antara 10 hingga 200 meter dari aras laut.
Kota Samarinda dibahagikan oleh Sungai Mahakam dan merupakan pintu masuk ke pedalaman Kalimantan Timur melalui laluan sungai, darat dan udara. Samarinda terkenal dengan pembangunannya yang luas seperti Pelabuhan Samarinda dan Pelabuhan Palaran, kedua-duanya merupakan pelabuhan tersibuk di Kalimantan Timur, serta populasi terbesar di Kalimantan Timur.
Bandar ini merupakan salah satu daripada 9 bandar utama terpilih dari seluruh Indonesia yang menerima anugerah (sijil) kebersihan bandar Adipura pada tahun 2023, selepas sebelum ini menerimanya beberapa kali pada tahun 1989, 1995 dan 2013. Tidak lama kemudian, bandar ini juga meraih kemenangan dalam anugerah Indonesia's Most Liveable City 2022 (dikeluarkan pada tahun 2023) daripada IAP (Indonesian Association of Urban and Regional Planners), meninggalkan Kota Balikpapan yang hanya menerima skor 69.
Dengan keluasan hanya 0.56 peratus daripada keluasan Provinsi Kalimantan Timur, Kota Samarinda merupakan kawasan ketiga terkecil selepas Kota Bontang dan Kota Balikpapan. Dilihat dari batas wilayahnya, Kota Samarinda seluruhnya merupakan enklaf Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sejarah
Samarinda, yang dikenal sebagai kota seperti sekarang, pernah menjadi salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martapura. Pada abad ke-13 Masihi (1201–1300), sebelum nama Samarinda dikenali, sudah wujud petempatan di enam lokasi iaitu Pulau Atas, Karangasan (Karang Asam), Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas). Sebutan tentang enam kampung di atas terdapat dalam manuskrip Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiulawal 1265 Hijrah (24 Februari 1849 Masihi).
Pada tahun 1565, terdapat penghijrahan orang Banjar dari Batang Banyu ke bahagian timur Kalimantan. Pada masa itu, kumpulan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) telah mempelopori penubuhan Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di kawasan Paser. Tambahan pula, suku Banjar juga tersebar di seluruh Kerajaan Kutai Kartanegara, yang merangkumi kawasan yang kini dikenali sebagai Samarinda.
Sejarah penempatan suku Banjar di Kalimantan Timur semasa zaman kekuasaan Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh pasukan penyelidik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (1976): "Suku Banjar pertama kali menetap di kawasan ini ketika kerajaan Kutai Kertanegara tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Banjar." Inilah latar belakang pembentukan bahasa Banjar sebagai bahasa dominan majoriti penduduk Samarinda pada masa hadapan, walaupun pelbagai etnik telah tiba, seperti Bugis dan Jawa.
Kesultanan Kutai Kertanegara menjadikan Samarinda sebagai kota bandar atau pelabuhan sejak tahun 1732 atau bersamaan dengan pemindahan ibu kota Kerajaan Kutai daripada Kutai Lama ke Pemarangan-Jembayan. Tambahan pula, kedatangan penjajah Belanda di wilayah Kesultanan Kutai pada tahun 1844 yang disertai dengan penaklukan, mengukuhkan Samarinda sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda di Borneo Timur dengan penempatan jawatan Asisten Residen. Kemudian Gabenor Jeneral Hindia Belanda mengeluarkan Surat Keputusan No. 75 bertarikh 16 Ogos 1896 yang menetapkan status Kota Samarinda sebagai Vierkante-Paal, iaitu kawasan satu persegi pusat birokrasi politik dan ekonomi. Semasa Gerakan Nasional 1908–1942, Samarinda menjadi pusat pendidikan rakyat dan gerakan nasional di Kalimantan Timur. Samarinda terus berfungsi sebagai pusat perjuangan dan revolusi di Kalimantan Timur yang menyokong Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.
Pada tahun 1953–1957 Samarinda dijadikan ibu kota Daerah Istimewa Kutai. Sejak tahun 1957, Samarinda telah menjadi ibu kota rasmi Wilayah Kalimantan Timur. Pada 21 Januari 1960, Samarinda dibentuk sebagai sebuah perbandaran yang dipisahkan dari Daerah Istimewa Kutai. Kemudian, dengan berlakunya Undang-Undang No. 18 tahun 1965, Samarinda berubah statusnya dari sebuah daerah perbandaran menjadi sebuah kota. Seterusnya, sejak tahun 1999 ia telah dinaik taraf menjadi Bandar berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Samarinda terus berkembang sebagai pusat birokrasi, ekonomi, dan pendidikan, dengan penduduk yang pelbagai etnik dan agama, namun tetap menghargai budaya tempatan Kalimantan dengan nuansa Banjar, Kutai, dan Dayak.
Berkenaan asal usul nama Samarinda, tradisi lisan orang Samarinda menyatakan bahawa asal usul nama Sama Rendah adalah disebabkan oleh kedudukan permukaan Sungai Mahakam yang sama rendahnya dan dataran pantai kota yang mengukuhkannya. Dahulu, setiap kali air sungai naik, kawasan tepi laut bandar sentiasa ditenggelami air. Tambahan pula, tebing Mahakam telah ditimbus/diisi berkali-kali sehingga kini ia telah meningkat sebanyak 2 meter dari ketinggian asalnya.
Oemar Dachlan menjelaskan bahawa asal usul perkataan "sama randah" berasal daripada bahasa Banjar kerana permukaan tanah kekal rendah dan tidak bergerak, bukan permukaan sungai yang airnya naik turun. Ini kerana jika penanda arasnya ialah sungai, maka istilahnya ialah "sama tinggi", bukan "sama rendah". Istilah "sama-randah" pada asalnya digunakan sebagai nama lokasi yang terletak di pinggir sungai Mahakam. Lama-kelamaan nama itu berkembang menjadi sebutan yang merdu: "Samarinda".
Geografi

Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di kawasan khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°21'18"-1°09'16" S dan 116°15'16"-117°24'16" T.
Batas-batas wilayah
| Utara | Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara |
|---|---|
| Timur | Kecamatan Muara Badak, Anggana, dan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara. |
| Selatan | Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara |
| Barat | Kecamatan Tenggarong Seberang dan Muara Badak di Kabupaten Kutai Kartanegara. |
Topografi
Topografi Samarinda meliputi tanah datar dan berbukit di ketinggian antara 10–200 m di atas permukaan laut.
Pemerintahan dan layanan publik
Walikota
Saat ini walikota dijabat oleh Drs. H. Achmad Amins, MM, yang berpasangan dengan wakil walikota, Syaharie Jaang, memenangkan Pilkada Samarinda pada tanggal 19 September 2005, dan dilantik oleh Gubernur Kaltim, Suwarna A.F. pada tanggal 25 November 2005, di GOR Segiri, Samarinda.
Kecamatan di Samarinda
Berdasarkan PP RI No. 21 tahun 1987 dan Instruksi Mendagri No. 26 tahun 1997, tentang penetapan batas wilayah, maka secara administratif Kota Samarinda memiliki luas 718 km2, yang terdiri dari 6 kecamatan, yang terbagi dalam 53 kelurahan.
Militer
- Korem 091/Aji Surya Natakesuma
- Batalyon Infanteri 611/Awang Long
Tempat menarik
Pelancongan
Kawasan Wisata Budaya Pampang
Kawasan Pampang yang terletak sekitar 20 km dari kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah. Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan raya Samarinda-Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah yang diselenggarakan setiap hari Minggu pukul 14.00 wita.
Air Terjun Tanah Merah
Terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda tepatnya di dusun Purwosari kecamatan Samarinda Utara. Tempat ini merupakan pilihan tepat bagi wisata keluarga karena dilengkapi pendopo istirahat, tempat berteduh dengan pohon peneduh di sekitar lokasi, warung, areal parkir kendaraan yang luas, pentas terbuka dan tempat pemandian. untuk mencapai obyek wisata tersebut, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat serta angkutan umum trayek Pasar Segiri - Sungai Siring. Untuk saat ini tempat wisata ini kurang mendapat perhatian akibatnya mutu pelayanan jadi berkurang sehingga perlu adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk mengembangkan tempat ini.
Penangkaran Buaya Makroman
Terletak di desa Pulau Atas, kecamatan Palaran dengan jarak lebih kurang 6 km dari Samarinda. Jenis buaya yang dipelihara yaitu buaya air tawar dan buaya Supit. Tempat pengembangbiakan buaya ini telah di lengkapi sarana dan prasarana wisata.
Kebun Raya Samarinda
[[Berkas:Kebunrayasamarinda.jpg|thumb|right|170px|Kebun Raya Unmul Samarinda]] Terletak di sebelah Utara kota Samarinda yang berjarak 20 km atau 30 menit perjalan darat. Di Kebun Raya Samarinda terdapat atraksi Danau alam, kebun binatang, panggung hiburan.
Telaga Permai Batu Besaung
Obyek wisata Telaga Permai Batu Besaung merupakan obyek wisata alam, terletak di Sempaja 15 km dari pusat kota Samarinda dengan kendaraan motor/mobil. Obyek wisata ini telah dilengkapi sarana dan prasarana wisata.
Kerajinan Tenun Ikat Sarung Samarinda
Terletak di Jalan Pangeran Bendahara Samarinda Seberang. Obyek wisata ini merupakan proses pembuatan sarung tradisional Samarinda, yang berjarak 8 km dari pusat kota Samarinda. Obyek tersebut telah dilengakapi sarana dan prasarana wisata. Kerajian tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi yang berdiam di sisi kiri Mahakam (sekarang menjadi Samarinda Seberang). Hampir disetiap perkampungan suku Bugis (kelurahan masjid Baka) dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional disebut "Gedokan" atau menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk yang dihasilkan untuk 1 (satu) buah sarung memakan waktu tiga minggu.
Beli-belah
Citra Niaga
Pusat aktiviti karya arsitek Antonio Ismael ini pernah memperoleh Anugerah Aga Khan pada tahun 1986, tetapi mengalami kebakaran pada tahun 2006, mujurnya di bangun kembali namun tidak sama seperti asal lagi. Merupakan pusat kerajinan tradisional di kota Samarinda
Mal Mesra Indah
Pusat beli-belah moden yang pertama di Samarinda yang dimiliki oleh Mesra Grup (H. Rusli). Pada awalnya hanya dua tingkat dan telah dibangun kembali menjadi 4 tingkat. Berada di Jalan KH. Khalid.
Mal Lembuswana
Pusat beli-belah moden kedua di Samarinda terletak di simpang Jalan S. Parman dan Jalan M. Yamin yang merupakan simpang empat terbesar di Samarinda.
Samarinda Central Plaza
Pusat belanja moden ketiga di Samarinda dengan pelaburan tempatan dari Roesianto Bersaudara.
Plaza Mulia
Pusat belanja modern keempat di Jalan Bhayangkara, mula beroperasi pada tahun 2009.
Transportasi

Air
Sejak didirikannya, transportasi utama Samarinda melalui Sungai Mahakam yang membelahnya ditengah-tengah, pada tahun 1987 baru dibangun Jembatan Mahakam yang menghubungkan Samarinda kota dengan Samarinda Seberang. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009 Jembatan Mahakam Hulu atau Mahulu, Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi) dan Jembatan Mahkota III (tahap pembebasan lahan).
Terdapat pelabuhan peti kemas yang berada di Jalan Yos Sudarso, dan sekarang sedang dibangun pelabuhan baru yang terletak di kecamatan Palaran untuk menggantikan pelabuhan yang sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi kota.
Darat
Terdapat jalan darat yang menghubungkan kota Samarinda dengan Balikpapan ke selatan, kemudian Bontang dan Sangatta ke utara, serta jalan baru yang menghubungkan ke Tenggarong, serta ke Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara melalui jalan timur yang tembus sampai ke Senipah, Samboja dan Balikpapan.
Udara
Bandar Udara Temindung (kode SRI) merupakan bandar udara yang menghubungkan Samarinda dengan kota-kota di pedalaman serta Balikpapan. Saat ini sedang dibuat Bandar Udara Sungai Siring, agar dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar.
Demografi
Kumpulan etnik
Kota Samarinda didiami oleh pelbagai kumpulan etnik. Kumpulan etnik terbesar ialah Jawa (36.70%), diikuti oleh Melayu (26.90%), Banjar (24.14%), Bugis (14.43%), Kutai (6.26%) dan Buton (2.13%). Kemudian terdapat juga etnik lain iaitu Dayak, Toraja, Minahasa, Batak, Cina, Sunda, Madura, Mandar, Makassar, Minangkabau dan lain-lain. Terdapat juga penduduk Samarinda yang terdiri daripada sebilangan warga Eropah, Amerika, Asia (termasuk ASEAN), Oceania dan Afrika, kedua-duanya dengan ITAP dan ITAS.
Agama
Penduduk kota Samarinda memeluk pelbagai agama, termasuk Islam 91.24%, kemudian Kristian sebanyak 7.75% (Protestan 5.09% dan Katolik 2.66%). Bilangan penganut Buddha ialah 0.87%, kemudian Hindu 0.09%, Konfusianisme 0.03% dan kepercayaan lain sebanyak 0.01%.
Pendidikan
- Akademi
- Akademi Akuntansi Edita Samarinda
- Akademi Bahasa Asing Colorado Samarinda
- Akademi Farmasi Samarinda
- Akademi Keperawatan Dirgahayu Samarinda
- Akademi Keperawatan Muhammadiyah Samarinda
- Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
- Akademi Kesehatan Lingkungan Samarinda
- Akademi Keuangan dan Perbankan Widya Praja Samarinda
- Institut
- IKIP PGRI Kaltim
- Universiti
- Universitas Mulawarman
- Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
- Universitas Widya Gama Mahakam
- Sekolah tinggi
- STAIN Samarinda
- STIK Mahakam
- STIE Muhammadiyah Samarinda
- STIE Nasional Samarinda
- STIE Samarinda
- STMIK Samarinda
- STMIK Widya Cipta Dharma
- Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Samarinda STIS Samarinda
[1]
- Politeknik
- Politeknik Negeri Samarinda [2]
- Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
- Politeknik Kesehatan Negeri Samarinda
- Sekolah Menengah
- SMP Negeri 2 Samarinda
- SMP Negeri 3 Samarinda
- SMA Negeri 2 Samarinda
- SMA Negeri 5 Samarinda
- dan lain-lain
- S1 PIN (Pemerintahan Integratif)
Kelab sukan
- Persisam Putra Samarinda (bola sepak)
Media
- Samarinda Pos (akhbar)
- TVRI Samarinda (televisyen)
- Tepian Channel (televisyen)
- Televisi Sinar Samarinda (televisi)
- TV Mahakam (televisyen)
- RRI Samarinda (radio)
- Antara News Radio 91.7 FM (radio)
- Radio Metro Mulawarman[3] Diarkibkan 2013-10-20 di Wayback Machine (radio)
