factograf
ID
Sign in

Politikus dan diplomat asal Indonesia

Retno Marsudi

Retno Marsudi

Key facts

tanggal lahir27 November 1962
pendidikanUniversitas Gadjah Mada
pekerjaandiplomat, politikus
tempat lahirSemarang
jabatanMenteri Luar Negeri
All data from the card 17
Pendahulu
Posisi ditetapkan
Presiden
Joko Widodo
Wakil
A.M. Fachir (2014–19)Mahendra Siregar (2019–22)Pahala Mansury (2023–24)
Pendahulu
Marty Natalegawa
Pengganti
Sugiono
Presiden
Susilo Bambang YudhoyonoJoko Widodo
Pendahulu
Junus Effendi Habibie
Pengganti
I Gusti Agung Wesaka Puja
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono
Pendahulu
Hatanto Reksodiputro
Pengganti
Esti Andayani
Lahir
Retno Lestari Priansari27 November 1962Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Partai politik
Independen
Suami/istri
Agus Marsudi ​(m. 1988)​
Anak
2, termasuk Dyota Marsudi
Almamater
Universitas Gadjah MadaUniversitas Ilmu Terapan Den Haag
Pekerjaan
Diplomat

Retno Lestari Priansari Marsudi (lahir 27 November 1962) adalah diplomat Indonesia. Ia dikenal sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia yang menjabat dari 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2024. Retno mengabdi selama dua periode, yaitu pada Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Sebelum menjabat menteri, Retno pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag. Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri, ia ditunjuk sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air sejak 1 November 2024.

Kehidupan awal dan pendidikan

Retno Marsudi lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 November 1962. Ia menghabiskan masa pendidikan menengah atasnya di SMA Negeri 3 Semarang sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Pada tingkat universitas, ia menempuh studi Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Program sarjana tersebut diselesaikannya pada tahun 1985, yang menjadi dasar awal kariernya di bidang diplomasi.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia terus mengembangkan kapasitas akademiknya melalui berbagai program studi lanjutan di luar negeri. Salah satunya adalah program studi "Undang-Undang Uni Eropa" yang diikutinya di Haagse Hogeschool, Den Haag, Belanda, pada tahun 2000. Selain itu, ia juga memperluas wawasan di bidang hak asasi manusia dengan mengikuti studi sebagai mahasiswa tamu di Universitas Oslo pada tahun 2006.

Rangkaian pendidikan tersebut menunjukkan konsistensi pengembangan kompetensi akademik dan profesionalnya, khususnya dalam bidang hubungan internasional, hukum regional, dan hak asasi manusia, yang relevan dengan perannya di kancah diplomasi internasional.

Karier

Kementerian Luar Negeri Indonesia

Setelah lulus, ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Dari tahun 1997 hingga 2001, Retno menjabat sebagai sekretaris satu bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Pada tahun 2001, ia ditunjuk sebagai Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Amerika-Eropa. Retno dipromosikan menjadi Direktur Eropa Barat pada tahun 2003.

Pada tahun 2005, ia diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Selama masa tugasnya, ia memperoleh penghargaan Order of Merit dari Raja Norwegia pada Desember 2011, menjadikannya orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Selain itu, ia juga sempat mendalami studi hak asasi manusia di Universitas Oslo.

Sebelum masa baktinya selesai, Retno dikirim kembali ke Jakarta untuk menjadi Direktur Jenderal Eropa dan Amerika, yang bertanggung jawab mengawasi hubungan Indonesia dengan 82 negara di Eropa dan Amerika.

Sejak tahun 2005 hingga 2008, Retno dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia, kemudian pada tahun 2008 hingga 2012 ia ditunjuk sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Retno kemudian dikirim sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda pada tahun 2012. Ia juga pernah memimpin berbagai negosiasi multilateral dan konsultasi bilateral dengan Uni Eropa, ASEM (Asia-Europe Meeting) dan FEALAC (Forum for East Asia-Latin America Cooperation).

Pada 2017, Retno mendapatkan penghargaan sebagai agen perubahan di bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Penghargaan tersebut diberikan oleh UN Women dan Partnership Global Forum (PGF). UN Women adalah lembaga PBB yang bertugas memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Sementara PGF adalah lembaga non-profit yang bertujuan memajukan kemitraan inovatif bagi pembangunan. Penghargaan ini diserahkan oleh Asisten Sekretaris Jenderal PBB yang juga selaku Deputi Direktur Eksekutif UN Women Lakhsmi Puri pada acara jamuan makan siang di sela pelaksanaan Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di Markas Besar PBB, New York.

Menteri Luar Negeri

Pada tanggal 27 Oktober 2014, Retno dilantik menjadi Menteri Luar Negeri Kabinet Kerja periode 2014-2019. Kemudian pada tanggal 23 Oktober 2019, Retno kembali diminta untuk membantu presiden Joko Widodo pada susunan Kabinet Indonesia Maju untuk melanjutkan kiprahnya sebagai Menteri Luar Negeri. Berkat Retno pula, Indonesia sukses menjadi Presiden di Dewan Keamanan PBB pada Mei 2019 dan Agustus 2020.

Selama menjadi Menteri Luar Negeri, ia beberapa kali mewakili Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan pidato kenegaraan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Utusan khusus Sekjen PBB

Pasca menjadi Menteri Luar Negeri yang sukses di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Retno mengungkapkan bahwa ia tidak akan bergabung dalam kabinet pemerintahan Presiden Prabowo. Retno Marsudi ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Utusan Khusus untuk isu air dunia. Jabatan baru nan prestis di PBB tersebut disampaikan langsung oleh Sekertaris Jenderal PBB, Anonio Guterres melalui raman resmi UN.

Kehidupan pribadi

Retno menikah dengan Agus Marsudi, seorang arsitek, dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Dyota Marsudi yang lahir pada 1989 dan Bagas Marsudi yang lahir pada 1993. Kini putra sulung Retno, yakni Dyota Marsudi telah menjabat sebagai Direktur Eksekutif di suatu perusahaan ventura, sementara putra bungsunya menjadi seorang dokter.

Tanda Kehormatan

Negara Tanggal Tanda Kehormatan Pita Harian Post Nominal
 Indonesia 25 Agustus 2025 Bintang Mahaputera Adipurna
11 November 2020 Bintang Mahaputera Adipradana
 Norwegia 15 Desember 2011 Commander with Star of the Royal Norwegian Order of Merit
 Belanda 12 Januari 2015 Knight Grand Cross of the Order of Orange-Nassau
16 September 2024 Golden Order of Merit from Ministry of Foreign Affairs
 Brunei 6 Oktober 2017 Sultan of Brunei Golden Jubilee Medal
 Peru 24 Mei 2018 Grand Cross of the Order of the Sun of Peru
 Afganistan 1 Maret 2020 Medal of Malalai
 Palestina 19 Agustus 2024 Star of Merit of the Order of the State of Palestine

Pranala luar

Jabatan Organisasi Internasional
Posisi baru Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air
2024–
Petahana
Jabatan politik
Didahului oleh:
Marty Natalegawa
Menteri Luar Negeri Indonesia
2014–2024
Diteruskan oleh:
Sugiono
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Hatanto Reksodiputro
Duta Besar Indonesia untuk Norwegia
2005–2008
Diteruskan oleh:
Esti Andayani
Didahului oleh:
Junus Effendi Habibie
Duta Besar Indonesia untuk Belanda
2011–2015
Diteruskan oleh:
I Gusti Agung Wesaka Puja

Read next

In 32 languages

Text from Wikipedia, CC BY-SA 4.0 · Source article