Mohani (juga disebut Moni atau Mohni) adalah festival keagamaan tahunan masyarakat Newar di Nepal. Perayaan ini memiliki kesamaan dengan Dashain, festival Hindu besar di Asia Selatan, tetapi dirayakan oleh umat Hindu dan Buddha sekaligus. Berdasarkan kalender lunar, Mohani dimulai pada hari pertama paruh terang bulan Kaula (sekitar akhir September) dan berlangsung selama lima belas hari hingga purnama.
Festival ini diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, ziarah, pertemuan keluarga, serta perayaan terbuka. Jamuan besar keluarga disebut Nakhtya (𑐣𑐏𑑂𑐟𑑂𑐫𑐵) yang biasanya berlangsung hingga berminggu-minggu setelahnya. Mohani juga didedikasikan kepada Dewi Taleju, dewi pelindung raja-raja Malla. Festival ini memiliki banyak makna simbolis: kemenangan Dewi Durga atas raksasa Mahisasur, Dewi Chamunda yang mengalahkan iblis Chunda, serta pertobatan Kaisar Ashoka yang beralih menjadi Buddha setelah peperangan berdarah.
Perayaan utama berlangsung selama empat hari, dari hari kedelapan hingga kesebelas paruh terang bulan Kaulā dalam kalender Era Nepal.
Etimologi
Nama modern Mohani berasal dari bahasa Newar Klasik mahani. Menurut Gautama Vajracharya, kata tersebut berakar dari bahasa Sanskerta Mahanavami, yang berarti “hari kesembilan agung”, yaitu hari paling penting dalam rangkaian perayaan ini.
Kegiatan keluarga
Perayaan dimulai dengan Nalāswane (नःलास्वने), yaitu penanaman benih jelai di atas pasir dalam wadah tanah liat. Ritual ini dilakukan di ruang pemujaan rumah atau di Agam Chhen (आगं छेँ), rumah tempat dewa pelindung keluarga dipuja.
Pada hari kedelapan (Ashtami), keluarga mengadakan pesta besar Kuchhi Bhoy (𑐎𑐹𑐕𑐶 𑐨𑑂𑐰𑐫𑑂). Anggota keluarga duduk berbaris berdasarkan usia, dari tertua hingga termuda.
Hari kesembilan, disebut Syākwa Tyākwa (स्याक्व त्याक्व) atau Navami, adalah puncak upacara. Ritual suci dilakukan di ruang pemujaan keluarga. Alat kerja seperti timbangan, alat tenun, mesin, dan kendaraan diberkati sebagai simbol penghormatan terhadap profesi. Pada hari ini, Kuil Taleju di Kathmandu, Patan, dan Bhaktapur dibuka untuk umum, satu-satunya kesempatan dalam setahun. Hari ini ditutup dengan jamuan keluarga besar.
Hari berikutnya, Chālan (चालं) atau Dashami, menjadi momen keluarga menerima berkah dari dewa pelindung. Tunas jelai yang ditanam di awal festival dibagikan sebagai simbol kesuburan, dan dahi setiap anggota keluarga diberi tanda merah sebagai restu. Di beberapa daerah, labu putih yang dilukis menyerupai wajah setan dipotong untuk melambangkan kehancuran kejahatan. Sebelum ritual ini, peserta membawa pedang upacara dalam arak-arakan Pāyā (पाया) di jalan-jalan. Malam hari ditutup dengan pesta keluarga terakhir.
Kegiatan komunitas
Beberapa perayaan besar tingkat komunitas turut memperkaya rangkaian Mohani:
- Pachali Bhairav Jātrā: prosesi di Kathmandu untuk memuliakan dewa Pachali Bhairav, berlangsung pada hari kelima festival.
- Sikāli Jātrā: tarian bertopeng suci di desa Khokana pada hari ketujuh. Ritual dan pertunjukan berlangsung selama lima hari.
- Nava Durgā Dance (Bhaktapur): pertunjukan tari bertopeng menggambarkan sembilan dewi pelindung kota. Sembilan kuil yang tersebar di Bhaktapur menandai batas wilayah pelindungan mereka.
- Asta Matrikā Dance (Patan): di halaman istana lama Patan, delapan penari bertopeng menggambarkan kemenangan Dewi Durga atas Mahisasur. Tradisi ini dimulai pada abad ke-17 dan dipercaya dapat menolak roh jahat serta membawa kesejahteraan.
- Manakamana Parade (Bunga): arak-arakan dewi Manakamana pada hari kesembilan, menampilkan tarian dengan penunggang kuda tiruan.
- Asanbhalu Dyah Jātrā (Annapurna Jatra): di Asan, Kathmandu, pada hari kesebelas, patung dewi Asanbhalu Ajimā diarak keliling kota diiringi musik dan parade pedang Asan Pāyā, dipimpin oleh anggota termuda komunitas. Hari ini menandai penutupan Mohani bagi warga Asan dan dikenal sebagai Asan Chālan.
Selain itu, tarian suci Kumha Pyakhan dahulu dipentaskan di Durbar Square dan Asan sebagai perlindungan simbolis terhadap patung Dewi Taleju ketika dikeluarkan dari kuilnya selama festival Mohani.
