factograf
ID

Majoor der Chinezen Batavia V

Khouw Kim An

Khouw Kim An

Key facts

tanggal lahir1875
tanggal kematian1945
tempat lahirBatavia
wafat diCimahi
pasangan nikahPhoa Tjie Nio
jabatananggota Volksraad
All data from the card 12
Pendahulu
Tio Tek Ho, Mayor Cina
Pengganti
Dihentikan sementara
Pendahulu
Dihentikan sementara
Pengganti
Dibubarkan
Lahir
Khouw Kim An1875Batavia, Hindia Belanda
Meninggal
13 Februari 1945 (umur 69–70)Tjimahi, Jawa Barat, Hindia Belanda
Suami/istri
Phoa Tji Nio
Hubungan
Khouw Tian Sek, Letnan Cina (kakek)Phoa Keng Hek Sia (ayah mertua) Khouw Kim Tjiang, Kapitan Cina (saudara) O. G. Khouw (sepupu)
Anak
Phoa Liong Djin
Orang tua
Letnan Cina Khouw Tjeng Tjoan (ayah)
Pekerjaan
Mayor Cina, pemimpin komunitas, anggota parlemen, tuan tanah
Penghargaan sipil
Great Gold Star for Loyalty and Merit; Officer of the Order of Orange-Nassau

Khouw Kim An, Mayor Cina Kelima (Hanzi: 許金安; Pinyin: Xǔ Jīn'ān; Pe̍h-ōe-jī: Khó͘ Kim-an; 1875 – 13 Februari 1945) dulu adalah seorang birokrat, tokoh publik, dan tuan tanah berlatar belakang Tionghoa-Indonesia yang menjabat sebagai Mayor Cina terakhir di Batavia, Hindia Belanda (kini Jakarta). Mayor Cina adalah jabatan pemerintahan Tionghoa tertinggi di Hindia Belanda dengan kekuatan politik dan hukum yang cukup besar terhadap komunitas Tionghoa di Hindia Belanda. Mayor Cina adalah salah satu jabatan tertua di koloni Belanda, dan mungkin hanya lebih muda dari jabatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Keluarga dan latar belakang

Potret cucu Mayor Khouw Kim An, Yan and Coen (oleh Charles Sayers, circa 1937).
Potret cucu Mayor Khouw Kim An, Yan and Coen (oleh Charles Sayers, circa 1937).

Khouw Kim An Sia lahir di Batavia pada tahun 1875 pada selir kesembilan dari ayahnya, Khouw Tjeng Tjoan, Letnan tituler Cina (meninggal pada tahun 1880). Ayah dan paman Khouw, Letnan Khouw Tjeng Kee dan Letnan Khouw Tjeng Po, adalah anak dari hartawan akhir abad ke-18, Letnan Khouw Tian Sek (meninggal pada tahun 1843), kepala dari Keluarga Khouw dari Tamboen, yang dianggap sebagai dinasti terkaya di kalangan aristokrasi Cabang Atas di Batavia. Gelar Letnan Cina yang didapat oleh ayah, paman, dan kakek Khouw adalah gelar kehormatan, sehingga tanpa keputusan resmi dari pemerintah Hindia Belanda. Sebagai anak dan cucu dari perwira Cina, Khouw Kim An pun mendapat gelar Sia.

Khouw Kim An Sia mendapat pendidikan Tionghoa tradisional dengan didasarkan pada Klasik Tionghoa, sehingga ia dapat menguasai bahasa Mandarin dan Hokkien, selain bahasa Melayu Batavia. Ia juga diajar oleh tutor privat dalam bahasa asal Eropa, seperti bahasa Belanda, sehingga ia fasih berbahasa Belanda. Pendidikan Tionghoa yang didapat oleh Khouw pun sangat kontras dengan pendidikan Belanda yang didapat oleh banyak orang dalam kelas sosial dan generasinya yang semakin kebarat-baratan, seperti yang didapat oleh sepupunya, O. G. Khouw. Familiaritas Khouw dengan budaya Tionghoa membuatnya berbeda, dan kemudian juga langka, sehingga menjadi keunggulan dalam kariernya sebagai pemimpin dan perwakilan Tionghoa di Hindia Belanda.

Pada usia 18 tahun, Khouw menikahi Phoa Tji Nio, anak dari seorang pemimpin komunitas, Phoa Keng Hek Sia, pendiri dari organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Istri Khouw juga merupakan cucu dari Phoa Tjeng Tjoan, Kapitan Cina Buitenzorg (kini Bogor). Keluarga Khouw dan Phoa memang telah lama berhubungan baik. Sejak tahun 1886, kakak Khouw, Khouw Kim Tjiang, telah menjabat sebagai Letnan Cina Buitenzorg, dan kemudian menggantikan kakek mertua Khouw sebagai Kapitan Cina Buitenzorg. Sepupu Khouw, O. G. Khouw, juga menjabat sebagai Wakil Presiden THHK, sementara ayah mertua Khouw, Phoa Keng Hek Sia, menjabat sebagai Presiden THHK. Khouw sendiri kemudian juga memainkan peran penting di THHK.

Khouw dan istrinya lalu tinggal di Buitenzorg, di mana keduanya telah memiliki hubungan keluarga yang sangat baik. Khouw dan istrinya kemudian dianugerahi empat anak laki-laki dan dua anak perempuan. Khouw Kim An Sia dan keluarganya tetap tinggal di Buitenzorg hingga mereka mewarisi Candra Naya dari sepupu Khouw, Khouw Yauw Kie, seorang Kapitan Cina di Dewan Cina Batavia.

Mayor Cina

Mayor Khouw Kim An (kanan) bersama tamu asal Eropa.
Mayor Khouw Kim An (kanan) bersama tamu asal Eropa.
Pembukaan Volksraad.
Pembukaan Volksraad.
2 images

Pada tahun 1905, Khouw dinaikkan ke jabatan Letnan Cina dan menjadi anggota dari Dewan Cina Batavia.

Pada tahun 1907, Tio Tek Ho, Mayor Cina keempat Batavia mengundurkan diri. Tio Tek Ho dilihat sebagai seorang tradisionalis yang reaksioner, sehingga sejumlah orang di pemerintahan Hindia Belanda dan komunitas Cina di Batavia ingin agar ia diganti. Setelah berkonsultasi dengan ayah mertua Khouw, Phoa Keng Hek, pemerintah Hindia Belanda kemudian memutuskan untuk menunjuk Khouw sebagai pengganti Mayor Tio Tek Ho.

Namun, tradisi menghendaki bahwa hanya Kapitan Cina yang dapat diangkat menjadi Mayor Cina. Khouw, yang saat itu masih bergelar Letnan pun dinaikkan ke jabatan Kapitan pada tahun 1908, sebelum kemudian ditunjuk sebagai Mayor Cina Batavia kelima pada tahun 1910. Pengangkatan Khouw, walaupun dilihat sebagai sebuah pengangkatan yang progresif, tidak dapat dipisahkan dari pengaruh dan latar belakang dari keluarganya. Sebagai Mayor dan pemimpin komunitas Cina, Khouw juga bertindak sebagai Chairman ex officio dari Dewan Cina Batavia, dan sebagai anggota dari Volksraad di Hindia Belanda. Ia pun berhubungan baik dengan Cina lain yang menjadi anggota dari Volksraad, seperti Hok Hoei Kan dan Loa Sek Hie.

Pada tahun 1918, semua perwira Cina, termasuk Khouw, dibebaskan dari jabatannya sebagai bagian dari upaya pemerintah Hindia Belanda untuk meninjau kembali peran perwira Cina di Hindia Belanda. Sejumlah aktivis komunitas pun mengkritik sistem perwira Cina, ataupun 'pengaturan tidak langsung', sebagai peninggalan feodalisme kuno. Namun, Khouw tetap dianggap baik oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dianugerahi sebagai Officer of the Order of Orange-Nassau pada tahun 1920. Akhirnya, pada tahun 1927, sebagian perwira Cina, termasuk Khouw, dikembalikan ke jabatan semula, kemungkinan karena nilai historis dan simbolis dari jabatan yang Khouw pegang. Namun, banyak kekuatan politik dan hukum dari Mayor Cina dilimpahkan ke pemerintah Hindia Belanda. Sehingga tugas Mayor Cina akhirnya hanya bersifat seremonial.

Saat berkunjung ke Belanda pada tahun 1927, Khouw mendapat kesempatan beraudiensi kepada Ratu Wilhelmina, dan ia pun menyampaikan salam setia dari komunitas Tionghoa di Hindia Belanda. Pada tanggal 10 Februari 1930, Khouw merayakan ulang tahun peraknya sebagai seorang Perwira Cina. Ratu pun memberinya penghargaan Great Gold Star for Loyalty and Merit atas jasa-jasanya kepada Kerajaan Belanda. Penghargaan tersebut hanya diberikan kepada pimpinan pribumi yang paling terkemuka, dan dianggap setara dengan penghargaan Order of the Netherlands Lion.

Perang Dunia II dan kematian

Makam Khouw Kim An (kanan) dan istrinya
Makam Khouw Kim An (kanan) dan istrinya

Selama Perang Dunia II, Jepang menginvasi dan menduduki Hindia Belanda. Pada tahun 1942, Mayor Khouw Kim An ditahan oleh Jepang dan dipenjara bersama pemimpin pemerintahan Hindia Belanda yang lain di Tjimahi. Khouw akhirnya meninggal di penjara pada tanggal 13 Februari 1945.

Jenazahnya lalu dimakamkan di dekat mausoleum dari sepupunya, yakni O. G. Khouw, di Petamburan.

Bibliografi

  • Blussé, Leonard; Chen, Menghong (2003). The Archives of the Kong Koan of Batavia (dalam bahasa Inggris). Leiden: BRILL. ISBN 9004131574.
  • Erkelens, Monique (2013). The decline of the Chinese Council of Batavia: the Loss of Prestige and Authority of the Traditional Elite amongst the Chinese Community from the End of the Nineteenth Century until 1942 (PDF) (dalam bahasa Inggris). Leiden: Leiden University.
  • Knapp, Ronald (2013). Chinese Houses of Southeast Asia: The Eclectic Architecture of Sojourners and Settlers. North Clarendon: Tuttle Publishing. ISBN 978-1462905874.
  • Lohanda, Mona (1996). The Kapitan Cina of Batavia, 1837–1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society. Jakarta: Djambatan. ISBN 979428257X.
  • Nio, Joe Lan (1940). Riwajat 40 Taon Dari Tiong Hoa Hwee Koan Batavia (1900–1939) [40 Years of Tiong Hoa Hwee Koan Batavia (1900–1939)]. Batavia: Tiong Hoa Hwee Koan.
  • Phoa, Kian Sioe (1956). Sedjarahnja: Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tamba Sia [The Chronicles of Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tamba Sia]. Djakarta: Reporter.
  • Suryadinate, Leo (2015). Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-9813055032.
  • Suryadinata, Leo (2005). Peranakan Chinese Politics in Java, 1917–1942. Marshall Cavendish Academic. ISBN 9812103600.
  • Wright, Arnold (1909). Twentieth Century Impressions of Netherlands India: Its History, People, Commerce, Industries and Resources. Lloyd's Greater Britain Pub. Co.
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Tio Tek Ho, Mayor Cina
Mayor Cina Batavia
1910–1918
Lowong
Dihentikan sementara
Lowong
Dihentikan sementara
dan
1927–1945
Dihapus

Read next

In 2 languages

Text from Wikipedia, CC BY-SA 4.0 · Source article