Jerapah adalah mamalia berkuku Afrika berukuran besar yang tergolong dalam genus Giraffa. Hewan ini merupakan hewan darat tertinggi yang masih hidup dan pemamah biak terbesar di Bumi. Jerapah diklasifikasikan ke dalam famili Giraffidae, bersama dengan kerabat terdekatnya yang masih hidup, okapi. Secara tradisional, jerapah dianggap sebagai satu spesies, Giraffa camelopardalis, dengan sembilan subspesies. Belakangan ini, para peneliti mengusulkan untuk membaginya menjadi empat spesies yang masih hidup, dengan tujuh subspesies, yang dapat dibedakan secara morfologis berdasarkan pola mantel rambutnya. Enam spesies punah yang valid dari Giraffa diketahui dari catatan fosil.
Karakteristik pembeda jerapah adalah leher dan kakinya yang sangat panjang, osikon yang menyerupai tanduk, serta pola mantelnya yang berbintik. Wilayah sebarannya yang terpencar membentang dari Chad di utara hingga Afrika Selatan di selatan, dan dari Niger di barat hingga Somalia di timur. Jerapah biasanya menghuni sabana dan lahan berkayu. Sumber makanannya adalah daun, buah, dan bunga dari tanaman berkayu, terutama spesies akasia, yang mereka gapai pada ketinggian yang tidak dapat dijangkau oleh sebagian besar herbivora darat lainnya. Singa, macan tutul, hiena tutul, dan iganyana dapat memangsa jerapah. Jerapah hidup dalam kawanan betina yang berkerabat beserta keturunannya, atau kawanan jantan dewasa yang tidak berkerabat, tetapi mereka bersifat sosial dan dapat berkumpul dalam kelompok besar. Pejantan membangun hierarki sosial melalui "adu leher", yakni pertarungan di mana leher digunakan sebagai senjata. Pejantan dominan mendapatkan akses kawin terhadap betina, yang memikul tanggung jawab tunggal untuk membesarkan anak-anaknya.
Jerapah telah memikat berbagai budaya kuno maupun modern karena penampilannya yang khas, dan sering kali ditampilkan dalam lukisan, buku, dan kartun. Hewan ini diklasifikasikan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Jerapah telah punah secara lokal dari banyak bagian wilayah sebaran sebelumnya. Jerapah masih ditemukan di banyak taman nasional dan suaka margasatwa, tetapi perkiraan pada tahun 2016 menunjukkan terdapat sekitar 97.500 anggota Giraffa di alam liar. Lebih dari 1.600 ekor dipelihara di kebun binatang pada tahun 2010.
Etimologi
Kata jerapah dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab. Nama "jerapah" diketahui memiliki akar paling awal yang diketahui dari kata bahasa Arab zarāfah (زِرَافَةْ), yang pada akhirnya berasal dari bahasa Afrika Sub-Sahara yang belum dapat dipastikan asal-usulnya. Ejaan Bahasa Inggris Pertengahan dan Bahasa Inggris Modern Awal, jarraf dan ziraph, diturunkan dari kata girafa dalam bahasa Spanyol dan bahasa Portugis yang didasarkan pada bentuk Arab tersebut. Bentuk bahasa Inggris modern berkembang sekitar tahun 1600 dari kata bahasa Prancis girafe.
Taksonomi


Evolusi
Jerapah adalah satu dari hanya dua genus yang masih hidup dari familia Giraffidae dalam ordo Artiodactyla, yang lainnya adalah okapi. Mereka adalah ruminansia dari klad Pecora, bersama dengan Antilocapridae (pronghorn), Cervidae (rusa), Bovidae (sapi, antelop, kambing, dan domba) dan Moschidae (rusa kesturi). Sebuah studi genom tahun 2019 (kladogram di bawah) menemukan bahwa Giraffidae adalah takson saudara bagi Antilocapridae, dengan estimasi pemisahan lebih dari 20 juta tahun yang lalu.
Familia Giraffidae dahulunya jauh lebih luas, dengan lebih dari 10 genera fosil yang telah dideskripsikan. Pemanjangan leher tampaknya telah dimulai sejak awal dalam garis keturunan jerapah. Perbandingan antara jerapah dan kerabat purbanya menunjukkan bahwa ruas tulang belakang yang dekat dengan tengkorak memanjang lebih awal, diikuti oleh pemanjangan ruas tulang belakang di bagian bawahnya. Salah satu nenek moyang jerapah awal adalah Canthumeryx, yang diperkirakan hidup pada rentang waktu yang bervariasi antara 25 hingga 20 juta tahun silam, 17–15 juta tahun lalu atau 18–14,3 juta tahun lalu, dan deposit fosilnya telah ditemukan di Libya. Hewan ini menyerupai antelop dan memiliki tubuh berukuran sedang yang ramping. Giraffokeryx muncul 15–12 juta tahun lalu di subbenua India dan menyerupai okapi atau jerapah kecil, serta memiliki leher yang lebih panjang dan osikon yang serupa. Giraffokeryx mungkin berbagi klad dengan jerapah yang bertubuh lebih kekar seperti Sivatherium dan Bramatherium.
Jerapah purba seperti Palaeotragus, Shansitherium dan Samotherium muncul 14 juta tahun lalu dan hidup di seluruh Afrika dan Eurasia. Hewan-hewan ini memiliki tengkorak yang lebih lebar dengan rongga frontal yang mengecil. Paleotragus menyerupai okapi dan mungkin merupakan nenek moyangnya. Pendapat lain menemukan bahwa garis keturunan okapi bercabang lebih awal, sebelum Giraffokeryx. Samotherium merupakan fosil transisi yang sangat penting dalam garis keturunan jerapah, karena panjang dan struktur ruas tulang lehernya berada di antara jerapah modern dan okapi, dan postur lehernya kemungkinan mirip dengan jerapah modern. Bohlinia, yang pertama kali muncul di Eropa tenggara dan hidup 9–7 juta tahun lalu, kemungkinan merupakan nenek moyang langsung jerapah. Bohlinia sangat menyerupai jerapah modern, memiliki leher dan kaki yang panjang serta osikon dan susunan gigi yang serupa.
Bohlinia mengkolonisasi Tiongkok dan India utara serta menurunkan genus Giraffa, yang sekitar 7 juta tahun silam mencapai Afrika. Perubahan iklim menyebabkan kepunahan jerapah Asia, sementara jerapah Afrika bertahan dan menyebar menjadi spesies baru. Jerapah yang ada saat ini tampaknya muncul sekitar 1 juta tahun silam di Afrika timur selama masa Pleistosen. Beberapa ahli biologi berpendapat bahwa jerapah modern merupakan keturunan dari G. jumae; yang lain menganggap G. gracilis sebagai kandidat yang lebih mungkin. G. jumae berukuran lebih besar dan lebih kekar, sedangkan G. gracilis lebih kecil dan lebih ramping.
Perubahan dari hutan yang luas menjadi habitat yang lebih terbuka, yang dimulai 8 juta tahun lalu, diyakini sebagai pendorong utama evolusi jerapah. Selama masa ini, tanaman tropis menghilang dan digantikan oleh tanaman C4 yang tahan kering, serta sabana kering muncul di seluruh Afrika timur dan utara serta India barat. Beberapa peneliti menghipotesiskan bahwa habitat baru ini, ditambah dengan pola makan yang berbeda, termasuk spesies akasia, mungkin telah memaparkan nenek moyang jerapah pada toksin yang menyebabkan laju mutasi yang lebih tinggi dan laju evolusi yang lebih cepat. Pola mantel jerapah modern mungkin juga muncul bersamaan dengan perubahan habitat ini. Jerapah Asia dihipotesiskan memiliki pewarnaan yang lebih mirip okapi.
Genom jerapah memiliki panjang sekitar 2,9 miliar pasangan basa, dibandingkan dengan 3,3 miliar pasangan basa pada okapi. Dari protein-protein dalam gen jerapah dan okapi, 19,4%-nya identik. Divergensi garis keturunan jerapah dan okapi terjadi sekitar 11,5 juta tahun lalu. Sekelompok kecil gen pengatur pada jerapah tampaknya bertanggung jawab atas tinggi badan hewan tersebut dan adaptasi sirkulasi yang terkait.
Spesies dan subspesies
Carl Linnaeus pada awalnya mengklasifikasikan jerapah yang masih hidup sebagai satu spesies pada tahun 1758. Ia memberinya nama binomial Cervus camelopardalis. Mathurin Jacques Brisson mencetuskan nama generik Giraffa pada tahun 1762. Selama tahun 1900-an, berbagai taksonomi dengan dua atau tiga spesies telah diusulkan. Sebuah studi tahun 2007 mengenai genetika jerapah menggunakan DNA mitokondria menyarankan setidaknya enam garis keturunan dapat diakui sebagai spesies. Sebuah studi tahun 2011 yang menggunakan analisis morfologi jerapah secara mendetail, serta penerapan konsep spesies filogenetik, mendeskripsikan delapan spesies jerapah yang masih hidup. Sebuah studi tahun 2016 juga menyimpulkan bahwa jerapah yang ada saat ini terdiri dari beberapa spesies. Para peneliti menyarankan keberadaan empat spesies, yang belum bertukar informasi genetik satu sama lain selama satu hingga dua juta tahun.
Sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa, bergantung pada metode yang dipilih, hipotesis taksonomi berbeda yang mengakui dua hingga enam spesies dapat dipertimbangkan untuk genus Giraffa. Studi tersebut juga menemukan bahwa metode koalesen multi-spesies dapat menyebabkan pemecahan taksonomi berlebihan, karena metode tersebut lebih membatasi struktur geografis alih-alih spesies. Hipotesis tiga spesies, yang mengakui G. camelopardalis, G. giraffa, dan G. tippelskirchi, sangat didukung oleh analisis filogenetik dan juga dikuatkan oleh sebagian besar analisis genetika populasi dan koalesen multi-spesies. Sebuah studi sekuensing genom utuh tahun 2021 menyarankan keberadaan empat spesies berbeda dan tujuh subspesies, yang didukung oleh studi morfologi kranial tahun 2024. Sebuah studi tahun 2024 menemukan jumlah aliran gen purba yang lebih tinggi dari perkiraan di antara populasi-populasi tersebut.
Kladogram di bawah ini menunjukkan hubungan filogenetik antara empat spesies dan tujuh subspesies berdasarkan analisis genom tahun 2021. Delapan garis keturunan tersebut bersesuaian dengan delapan subspesies tradisional dalam hipotesis satu spesies. Jerapah Rothschild dimasukkan ke dalam G. camelopardalis camelopardalis.
|
Tabel berikut membandingkan hipotesis-hipotesis berbeda mengenai spesies jerapah. Kolom deskripsi menampilkan sembilan subspesies tradisional dalam hipotesis satu spesies.
| Deskripsi | Gambar | Taksonomi delapan spesies | Taksonomi empat spesies | Taksonomi tiga spesies |
|---|---|---|---|---|
| Jerapah kordofa (G. c. antiquorum) memiliki wilayah sebaran yang mencakup bagian selatan Chad, Republik Afrika Tengah, bagian utara Kamerun, dan bagian timur laut Republik Demokratik Kongo. Populasi di Kamerun sebelumnya diklasifikasikan sebagai G. c. peralta, tetapi anggapan ini keliru. Dibandingkan dengan jerapah nubia, subspesies ini memiliki pola bercak yang lebih kecil dan tidak beraturan. Bercak-bercak tersebut juga ditemukan di bagian dalam kaki, terkadang hingga ke bawah tumit. Pejantan memiliki benjolan median pada tengkoraknya. Diperkirakan terdapat sekitar 2.000 ekor yang masih bertahan di alam liar. Kerancuan yang cukup besar sempat terjadi terkait status subspesies ini dan G. c. peralta di kebun binatang. Pada tahun 2007, seluruh jerapah yang diduga sebagai G. c. peralta di kebun binatang Eropa terbukti merupakan G. c. antiquorum. Dengan koreksi ini, terdapat sekitar 65 ekor yang hidup di kebun binatang. | Jerapah kordofa (G. antiquorum) |
Jerapah utara (G. camelopardalis) Tiga atau empat subspesies:
| ||
| Jerapah nubia (G. c. camelopardalis), dapat ditemukan di bagian timur Sudan Selatan dan barat daya Etiopia, serta di Kenya dan Uganda. Jerapah ini memiliki bercak berwarna cokelat kastanya dengan tepi yang tajam dan tegas, dikelilingi oleh garis-garis yang umumnya berwarna putih, sementara bagian bawah tubuhnya tidak memiliki bercak. Terdapat benjolan yang menonjol di bagian tengah kepala pejantan. Diperkirakan terdapat sekitar 2.150 ekor yang tersisa di alam liar, ditambah 1.500 individu lain yang tergolong dalam ekotipe Rothschild. Dengan digabungkannya jerapah rothschild ke dalam subspesies Nubia, jerapah nubia menjadi sangat umum ditemukan di penangkaran, meskipun fenotipe aslinya tergolong langka, satu kelompok dipelihara di Kebun Binatang Al Ain di Uni Emirat Arab. Pada tahun 2003, kelompok ini berjumlah 14 ekor. | Jerapah nubia (G. camelopardalis) Dikenal juga sebagai Jerapah Baringo atau Jerapah Uganda Dua subspesies:
| |||
| Jerapah rothschild (G. c. rothschildi) kemungkinan merupakan sebuah ekotipe dari G. camelopardalis. Wilayah sebarannya meliputi sebagian Uganda dan Kenya. Keberadaannya di Sudan Selatan masih belum dapat dipastikan. Jerapah ini memiliki bercak gelap berukuran besar yang biasanya bertepi tegas namun terkadang terbelah. Bercak gelap tersebut juga bisa memiliki guratan warna pucat di dalamnya. Pola bercak jarang mencapai bagian bawah tumit dan hampir tidak pernah sampai ke kuku kaki. Ekotipe ini juga dapat mengembangkan lima "tanduk". Sekitar 1.500 individu diperkirakan masih bertahan di alam liar, dan lebih dari 450 ekor hidup di kebun binatang. Berdasarkan analisis genetik sekitar September 2016, hewan ini bersifat konspesifik dengan Jerapah nubia (G. c. camelopardalis). | ||||
| Jerapah afrika barat (G. c. peralta) adalah hewan endemis di barat daya Niger. Hewan ini memiliki pelage (rambut) yang lebih terang dibandingkan subspesies lainnya, dengan bercak merah berbentuk cuping yang memanjang hingga ke bawah tumit. Osikonnya lebih tegak daripada subspesies lain, dan pejantannya memiliki benjolan median yang berkembang dengan baik. Ini adalah subspesies yang paling terancam punah dalam genus Giraffa, dengan hanya 400 individu yang tersisa di alam liar. Jerapah di Kamerun sebelumnya diyakini termasuk dalam spesies ini, tetapi sebenarnya adalah G. c. antiquorum. Kesalahan ini mengakibatkan kerancuan mengenai statusnya di kebun binatang, tetapi pada tahun 2007 dipastikan bahwa semua "G. c. peralta" yang dipelihara di kebun binatang Eropa sebenarnya adalah G. c. antiquorum. Studi yang sama pada tahun 2007 menemukan bahwa jerapah Afrika Barat berkerabat lebih dekat dengan jerapah Rothschild daripada jerapah Kordofan, dan leluhurnya mungkin bermigrasi dari Afrika timur ke utara, lalu ke barat seiring meluasnya Gurun Sahara. Pada kondisi terluasnya, Danau Chad mungkin berperan sebagai pembatas antara jerapah Afrika Barat dan Kordofan selama masa Holosen (sebelum 5000 SM). | Jerapah afrika barat (G. peralta), | |||
| Jerapah retikulata (G. c. reticulata) adalah hewan asli timur laut Kenya, selatan Etiopia, dan Somalia. Pola mantelnya yang khas terdiri dari bercak-bercak poligonal berwarna cokelat kemerahan bertepi tajam yang dikelilingi oleh garis-garis putih tipis. Bercak tersebut bisa memanjang hingga ke bawah tumit ataupun tidak, dan benjolan median terdapat pada pejantan. Diperkirakan 8.660 individu tersisa di alam liar, dan berdasarkan catatan Sistem Informasi Spesies Internasional, lebih dari 450 ekor hidup di kebun binatang. Sebuah studi tahun 2024 menemukan bahwa jerapah retikulata adalah hasil hibridisasi antara garis keturunan jerapah utara dan selatan. | Jerapah retikulata (G. reticulata), Dikenal juga sebagai Jerapah somalia | |||
| Jerapah angola (G. c. angolensis) dapat ditemukan di utara Namibia, barat daya Zambia, tengah Botswana, barat Zimbabwe, selatan Zimbabwe dan, sejak pertengahan 2023, hadir kembali di Angola. Sebuah studi genetik tahun 2009 pada subspesies ini menunjukkan bahwa populasi utara Gurun Namib dan Taman Nasional Etosha membentuk subspesies yang terpisah. Subspesies ini berwarna putih dengan bercak cokelat besar yang memiliki tepian meruncing atau bergerigi. Pola bercak meluas ke seluruh kaki namun tidak sampai ke bagian atas wajah. Bercak pada leher dan pinggul cenderung berukuran cukup kecil. Subspesies ini juga memiliki tanda putih di telinga. Diperkirakan sekitar 13.000 ekor masih bertahan di alam liar, dan sekitar 20 ekor hidup di kebun binatang. | Jerapah angola (G. angolensis) Dikenal juga sebagai Jerapah Namibia |
Jerapah selatan (G. giraffa)
Dua subspesies:
| ||
| Jerapah afrika selatan (G. c. giraffa) ditemukan di utara Afrika Selatan, selatan Botswana, utara Botswana, dan barat daya Mozambik. Jerapah ini memiliki warna dasar kuning kecokelatan yang ditandai dengan bercak gelap agak membulat "dengan beberapa juluran halus". Bercak-bercak tersebut memanjang hingga ke bawah kaki, dan ukurannya semakin mengecil seiring turun ke bawah. Benjolan median pada pejantan relatif kecil. Diperkirakan maksimum 31.500 ekor masih tersisa di alam liar, dan sekitar 45 ekor hidup di kebun binatang. | Jerapah afrika selatan (G. giraffa) Dikenal juga sebagai Jerapah tanjung (Cape giraffe) | |||
| Jerapah masai (G. c. tippelskirchi) dapat ditemukan di tengah dan selatan Kenya serta di Tanzania. Pola mantelnya sangat beragam, dengan bercak mulai dari yang sebagian besar membulat dan bertepi halus, hingga yang berbentuk oval serta bertepi torehan atau berlekuk. Benjolan median biasanya terdapat pada pejantan. Sebanyak 32.550 ekor diperkirakan masih bertahan di alam liar, dan sekitar 100 ekor hidup di kebun binatang. | Jerapah masai (G. tippelskirchi) Dikenal juga sebagai Jerapah Kilimanjaro |
Jerapah masai (G. tippelskirchi)
Dua subspesies:
| ||
| Jerapah thornicroft (G. c. thornicrofti) terbatas hanya di Lembah Luangwa di timur Zambia. Jerapah ini memiliki bercak yang bertakik dan agak berbentuk bintang, yang mungkin memanjang atau tidak memanjang melintasi kaki. Benjolan median pada pejantan berukuran sedang. Tidak lebih dari 550 ekor tersisa di alam liar, dan tidak ada yang dipelihara di kebun binatang. Subspesies ini dinamai berdasarkan Harry Scott Thornicroft. | Jerapah thornicroft ("G. thornicrofti") Dikenal juga sebagai Jerapah Luangwa atau Jerapah rhodesia | |||
Spesies punah pertama yang dideskripsikan adalah Giraffa sivalensis dari Pakistan, yang holotipenya dievaluasi ulang sebagai ruas tulang belakang dari spesies terpisah dalam genus tersebut yang awalnya dideskripsikan sebagai fosil jerapah yang masih hidup. Spesies punah lainnya, Giraffa punjabiensis, diketahui berasal dari Pakistan. Empat spesies punah valid lainnya dari Giraffa yang diketahui dari Afrika adalah Giraffa gracilis, Giraffa jumae, Giraffa pygmaea, dan Giraffa stillei. "G." pomeli dari Aljazair dan Tunisia bukanlah spesies Giraffinae, melainkan spesies Palaeotraginae yang berkerabat dengan Mitilanotherium.
Anatomi






Jerapah dewasa dapat mencapai tinggi 4,3–5,7 m (14–19 ft), dengan adanya dimorfisme seksual di mana pejantan lebih tinggi daripada betina. Berat rata-rata adalah 1,192 kg (2,63 pon) untuk pejantan dewasa dan 828 kg (1.825 pon) untuk betina dewasa. Terlepas dari leher dan kakinya yang jenjang, tubuhnya relatif pendek. Kulitnya sebagian besar berwarna abu-abu atau cokelat muda, dan dapat mencapai ketebalan 20 mm (0,79 in). Ekornya yang sepanjang 80–100 cm (31–39 in) berakhir dengan jambul rambut yang panjang dan gelap, serta digunakan sebagai pertahanan terhadap serangga.
Mantelnya memiliki bercak atau totol gelap, yang bisa berwarna oranye, cokelat kemerahan, cokelat, atau hampir hitam, dikelilingi oleh rambut berwarna terang, biasanya putih atau krem. Warna jerapah jantan menjadi semakin gelap seiring bertambahnya usia. Pola mantelnya telah diklaim berfungsi sebagai kamuflase dalam pola cahaya dan bayangan di hutan sabana. Saat berdiri di antara pepohonan dan semak belukar, mereka sulit terlihat bahkan pada jarak beberapa meter. Namun, jerapah dewasa bergerak untuk mendapatkan pandangan terbaik dari pemangsa yang mendekat, mengandalkan ukuran dan kemampuan mereka untuk mempertahankan diri daripada kamuflase, yang mungkin lebih penting bagi anak jerapah. Setiap jerapah memiliki pola mantel yang unik. Anak jerapah mewarisi beberapa ciri pola mantel dari induknya, dan variasi dalam beberapa ciri totol berkorelasi dengan kelangsungan hidup anak jerapah. Kulit di bawah bercak-bercak tersebut mungkin mengatur suhu tubuh hewan ini, karena merupakan tempat bagi sistem pembuluh darah yang kompleks dan kelenjar keringat yang besar. Jerapah tanpa totol atau berwarna solid sangat langka, tetapi pernah diamati.
Bulu jerapah mungkin memberikan pertahanan kimiawi bagi hewan ini, karena zat penolak parasitnya menghasilkan aroma yang khas. Setidaknya terdapat 11 bahan kimia aromatik utama di dalam bulunya, meskipun indola dan 3-metilindola bertanggung jawab atas sebagian besar baunya. Karena jantan memiliki bau yang lebih kuat daripada betina, hal ini mungkin juga memiliki fungsi seksual.
Kepala
Kedua jenis kelamin memiliki struktur seperti tanduk yang menonjol yang disebut osikon, yang dapat mencapai panjang 135 cm (53 in). Osikon terbentuk dari tulang rawan yang mengalami osifikasi, tertutup kulit, dan menyatu dengan tengkorak pada tulang parietal. Karena tervaskularisasi, osikon mungkin berperan dalam termoregulasi, dan digunakan dalam perkelahian antar pejantan. Penampilan osikon adalah panduan yang andal untuk menentukan jenis kelamin atau usia jerapah: osikon betina dan jerapah muda berbentuk tipis dan memiliki jambul rambut di atasnya, sedangkan osikon jantan dewasa cenderung botak dan berbungkul di bagian atasnya. Sebuah benjolan, yang lebih menonjol pada jantan, muncul di bagian tengah tengkorak. Pejantan mengembangkan endapan kalsium yang membentuk benjolan pada tengkorak mereka seiring bertambahnya usia. Beberapa sinus memperingan tengkorak jerapah. Namun, seiring bertambahnya usia pejantan, tengkorak mereka menjadi lebih berat dan lebih menyerupai gada, membantu mereka menjadi lebih dominan dalam pertarungan. Kondilus oksipital di bagian dasar tengkorak memungkinkan hewan ini untuk mendongakkan kepalanya lebih dari 90 derajat dan mengambil makanan di dahan tepat di atasnya dengan lidah.
Dengan mata yang terletak di sisi kepala, jerapah memiliki bidang pandang yang luas dari ketinggiannya yang luar biasa. Dibandingkan dengan ungulata lainnya, penglihatan jerapah lebih bersifat binokular dan matanya lebih besar dengan luas permukaan retina yang lebih luas. Jerapah kemungkinan dapat melihat warna, dan indra pendengaran serta penciuman mereka tajam. Telinganya dapat digerakkan. Lubang hidungnya berbentuk celah, kemungkinan untuk menahan hembusan pasir. Lidah jerapah panjangnya sekitar 45 cm (18 in). Lidah ini berwarna hitam, mungkin untuk melindungi dari sengatan matahari, dan dapat mencengkeram dedaunan serta memetik daun dengan hati-hati. Bibir atasnya fleksibel dan berambut untuk melindungi dari duri tajam. Rahang atas memiliki langit-langit mulut yang keras alih-alih gigi depan. Geraham dan premolarnya lebar dengan mahkota yang rendah di permukaannya.
Leher
Jerapah memiliki leher yang sangat jenjang, yang panjangnya dapat mencapai 2,4 m (7,9 ft). Di sepanjang lehernya terdapat surai yang tersusun dari rambut-rambut pendek yang tegak. Leher tersebut lazimnya bertumpu pada sudut kemiringan 50–60 derajat, meskipun pada individu muda sudutnya mendekati 70 derajat. Leher yang panjang ini diakibatkan oleh pemanjangan yang tidak proporsional dari vertebra serviks, bukan karena penambahan jumlah ruas tulang. Setiap ruas vertebra serviks memiliki panjang lebih dari 28 cm (11 in). Ruas-ruas ini mencakup 52–54 persen dari total panjang kolom vertebral jerapah, bandingkan dengan 27–33 persen yang lazim pada ungulata besar serupa, termasuk kerabat terdekat jerapah yang masih hidup, okapi. Pemanjangan ini sebagian besar terjadi setelah kelahiran, mungkin karena induk jerapah akan mengalami kesulitan saat melahirkan anak dengan proporsi leher yang sama seperti dewasa. Kepala dan leher jerapah ditopang oleh otot-otot besar dan sebuah ligamen nuchal, yang tertambat pada duri-duri vertebra toraks yang panjang, sehingga membentuk punuk.
Vertebra leher jerapah memiliki sendi peluru. Titik artikulasi antara vertebra serviks dan toraks pada jerapah bergeser hingga terletak di antara vertebra toraks pertama dan kedua (T1 dan T2), tidak seperti pada kebanyakan ruminansia lain, di mana artikulasinya berada di antara vertebra serviks ketujuh (C7) dan T1. Hal ini memungkinkan C7 berkontribusi langsung terhadap peningkatan panjang leher dan memunculkan dugaan bahwa T1 sebenarnya adalah C8, dan bahwa jerapah telah menambahkan satu vertebra serviks ekstra. Namun, proposisi ini tidak diterima secara umum, karena T1 memiliki fitur morfologis lain, seperti tulang rusuk yang berartikulasi, yang dianggap sebagai diagnosis vertebra toraks, dan karena pengecualian terhadap batas mamalia yang memiliki tujuh vertebra serviks umumnya ditandai dengan peningkatan anomali neurologis dan penyakit.
Terdapat beberapa hipotesis mengenai asal-usul evolusi dan pemertahanan pemanjangan pada leher jerapah. Charles Darwin pada awalnya menyarankan "hipotesis persaingan peramban", yang baru ditentang belakangan ini. Hipotesis ini menyarankan bahwa tekanan kompetitif dari peramban yang lebih kecil, seperti kudu, steenbok, dan impala, mendorong pemanjangan leher, karena hal itu memungkinkan jerapah menjangkau makanan yang tidak bisa dicapai oleh pesaingnya. Keuntungan ini nyata, karena jerapah dapat dan memang makan hingga ketinggian 4,5 m (15 ft), sementara pesaing yang cukup besar sekalipun, seperti kudu, hanya dapat makan hingga ketinggian sekitar 2 m (6 ft 7 in). Terdapat pula penelitian yang menyarankan bahwa persaingan perambanan sangat ketat di tingkat yang lebih rendah, dan jerapah makan lebih efisien (memperoleh lebih banyak biomassa daun dalam setiap suapan) di bagian tajuk pohon yang tinggi. Akan tetapi, para ilmuwan berbeda pendapat mengenai seberapa banyak waktu yang dihabiskan jerapah untuk makan pada tingkat di luar jangkauan peramban lain, dan sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa jerapah dewasa dengan leher yang lebih panjang justru menderita tingkat kematian yang lebih tinggi dalam kondisi kekeringan dibandingkan rekan-rekan mereka yang berleher lebih pendek. Studi ini menyarankan bahwa mempertahankan leher yang lebih panjang membutuhkan lebih banyak nutrisi, yang menempatkan jerapah berleher panjang pada risiko selama kekurangan pangan.
Teori lain, hipotesis seleksi seksual, mengajukan bahwa leher panjang berevolusi sebagai karakteristik seksual sekunder, yang memberikan jantan keuntungan dalam kontes "adu leher" (necking) untuk menegakkan dominasi dan mendapatkan akses ke betina yang reseptif secara seksual. Untuk mendukung teori ini, beberapa studi menyatakan bahwa leher jantan lebih panjang dan lebih berat daripada betina pada usia yang sama, dan bahwa jantan tidak menggunakan bentuk pertarungan lain. Namun, sebuah studi tahun 2024 menemukan bahwa, meskipun jantan memiliki leher yang lebih tebal, betina justru memiliki leher yang secara proporsional lebih panjang, yang kemungkinan disebabkan oleh kebutuhan mereka yang lebih besar untuk mencari makanan guna menopang diri mereka sendiri dan anak-anak yang bergantung pada mereka. Juga telah diusulkan bahwa leher tersebut berfungsi untuk memberikan kewaspadaan yang lebih besar bagi hewan tersebut.
Tungkai, pergerakan, dan postur
Tungkai depan jerapah cenderung lebih panjang daripada tungkai belakangnya, dan jantan memiliki tungkai depan yang secara proporsional lebih panjang daripada betina, yang memberikan tumpuan lebih baik saat mereka mengayunkan leher dalam pertarungan. Tulang tungkainya tidak memiliki metapodial pertama, kedua, dan kelima. Tampaknya, sebuah ligamen suspensorium memungkinkan tungkai yang jenjang tersebut menopang bobot tubuh hewan yang sangat besar. Kuku jerapah jantan besar dapat mencapai diameter 31 cm × 23 cm (12,2 in × 9,1 in). Fetlock pada kakinya berada rendah di dekat tanah, memungkinkan kuku untuk menopang berat hewan dengan lebih baik. Jerapah tidak memiliki kuku embun maupun kelenjar interdigital. Meskipun panggulnya relatif pendek, tulang ilium memiliki crista yang membentang keluar.
Jerapah hanya memiliki dua gaya jalan: berjalan dan menderap. Gerakan berjalan dilakukan dengan menggerakkan tungkai pada satu sisi tubuh secara bersamaan, kemudian diikuti oleh sisi lainnya. Saat menderap, tungkai belakang bergerak melingkar melampaui tungkai depan sebelum tungkai depan bergerak maju, dan ekornya akan melengkung ke atas. Gerakan kepala dan leher memberikan keseimbangan serta mengendalikan momentum saat hewan ini menderap. Jerapah dapat mencapai kecepatan lari cepat (sprint) hingga 60 km/h (37 mph), dan mampu mempertahankan kecepatan 50 km/h (31 mph) selama beberapa kilometer. Jerapah kemungkinan besar bukan perenang yang andal karena tungkainya yang panjang akan sangat menyulitkan pergerakan di dalam air, meskipun mereka mungkin mampu mengapung. Saat berenang, toraks akan terbebani oleh tungkai depan, sehingga menyulitkan hewan tersebut untuk menggerakkan leher dan tungkainya secara serasi atau untuk menjaga kepalanya tetap berada di atas permukaan air.
Jerapah beristirahat dengan cara berbaring dengan tubuh di atas tungkai yang terlipat. Untuk berbaring, hewan ini berlutut pada tungkai depannya lalu merendahkan sisa tubuhnya. Untuk bangkit kembali, ia pertama-tama bertumpu pada lutut depannya dan memosisikan bagian belakang tubuhnya di atas tungkai belakang. Ia kemudian menarik bagian belakang tubuhnya ke atas, dan tungkai depannya kembali berdiri tegak. Pada setiap tahapan tersebut, hewan ini mengayunkan kepalanya untuk menjaga keseimbangan. Jika jerapah hendak menunduk untuk minum, ia akan merentangkan tungkai depannya atau menekuk lututnya. Studi di penangkaran menemukan bahwa jerapah tidur secara terputus-putus sekitar 4,6 jam per hari, sebagian besar pada malam hari. Biasanya ia tidur dalam posisi berbaring; namun, tidur sambil berdiri juga pernah tercatat, terutama pada individu yang lebih tua. Fase "tidur nyenyak" singkat yang terputus-putus saat berbaring ditandai dengan jerapah yang menekuk lehernya ke belakang dan menyandarkan kepalanya pada pinggul atau paha, sebuah posisi yang diyakini mengindikasikan tidur paradoks.
Sistem internal
Pada mamalia, saraf laring rekuren kiri lebih panjang daripada yang kanan; pada jerapah, selisih panjangnya mencapai lebih dari 30 cm (12 in). Saraf-saraf ini lebih panjang pada jerapah dibandingkan pada hewan hidup lainnya; saraf kiri panjangnya lebih dari 2 m (6 ft 7 in). Setiap sel saraf pada jalur ini bermula dari batang otak dan menjulur ke bawah leher menyusuri saraf vagus, kemudian bercabang menjadi saraf laring rekuren yang kembali naik ke atas leher menuju laring. Dengan demikian, sel-sel saraf ini memiliki panjang hampir 5 m (16 ft) pada jerapah terbesar. Terlepas dari lehernya yang panjang dan tengkoraknya yang besar, otak jerapah tergolong lazim untuk ukuran seekor ungulata. Pelepasan panas secara evaporatif di saluran hidung menjaga otak jerapah tetap sejuk. Bentuk kerangkanya menyebabkan jerapah memiliki volume paru-paru yang kecil relatif terhadap massanya. Lehernya yang panjang memberikan ruang mati (dead space) dalam jumlah besar, meskipun hal ini dibatasi oleh tenggorokannya yang sempit. Jerapah juga memiliki volume tidal yang tinggi, sehingga keseimbangan antara ruang mati dan volume tidal hampir sama dengan mamalia lainnya. Hewan ini tetap dapat memasok oksigen yang cukup bagi jaringannya, dan dapat meningkatkan laju pernapasan serta difusi oksigennya saat berlari.
Sistem peredaran darah jerapah memiliki beberapa adaptasi untuk mengompensasi ketinggiannya yang luar biasa. Jantungnya, yang berbobot 11 kg (25 pon) dan panjang 60 cm (2 ft), harus menghasilkan tekanan darah kira-kira dua kali lipat dari yang dibutuhkan manusia untuk menjaga aliran darah ke otak. Oleh karena itu, dinding jantungnya bisa mencapai ketebalan 7,5 cm (3,0 in). Jerapah memiliki detak jantung yang relatif tinggi untuk ukuran tubuhnya, yaitu 150 denyut per menit. Saat hewan ini menundukkan kepalanya, darah mengalir deras ke bawah tanpa hambatan berarti dan sebuah rete mirabile di leher bagian atas, dengan luas penampangnya yang besar, mencegah aliran darah berlebih ke otak. Saat ia kembali mengangkat kepala, pembuluh darah menyempit dan mendorong darah ke otak sehingga hewan tersebut tidak pingsan. Vena jugularis mengandung beberapa (paling sering tujuh) katup untuk mencegah darah mengalir kembali ke kepala dari vena kava inferior dan atrium kanan saat kepala ditundukkan. Sebaliknya, pembuluh darah di tungkai bawah berada di bawah tekanan besar akibat berat cairan yang menekannya. Untuk mengatasi masalah ini, kulit pada tungkai bawah tebal dan kencang, mencegah terlalu banyak darah mengalir ke dalamnya.
Jerapah memiliki otot esofagus yang cukup kuat untuk memungkinkan regurgitasi makanan dari lambung naik ke leher dan masuk ke mulut untuk memamah biak. Mereka memiliki lambung empat bilik, yang beradaptasi dengan diet khusus mereka. Usus jerapah dewasa berukuran panjang lebih dari 70 m (230 ft) dan memiliki rasio usus halus terhadap usus besar yang relatif kecil. Jerapah memiliki hati yang kecil dan padat. Pada janin, mungkin terdapat kandung empedu kecil yang menghilang sebelum kelahiran.
Perilaku dan ekologi





Habitat dan makanan
Jerapah biasanya menghuni sabana dan lahan berhutan terbuka. Mereka lebih menyukai kawasan yang didominasi oleh pohon Acacieae, Commiphora, Combretum, dan Terminalia dibandingkan Brachystegia yang tumbuh lebih rapat. Jerapah Angola dapat ditemukan di lingkungan gurun. Jerapah meramban ranting-ranting pohon, lebih menyukai yang berasal dari subfamili Acacieae serta genus Commiphora dan Terminalia, yang merupakan sumber kalsium dan protein penting untuk menopang laju pertumbuhan jerapah. Mereka juga memakan semak, rumput, dan buah-buahan. Seekor jerapah memakan sekitar 34 kg (75 pon) materi tumbuhan setiap harinya. Saat mengalami stres, jerapah mungkin mengunyah dahan-dahan besar, dan menguliti pepagannya. Jerapah juga tercatat melakukan pengunyahan tulang tua.
Selama musim hujan, makanan berlimpah dan jerapah lebih menyebar, sementara pada musim kemarau, mereka berkumpul di sekitar pohon dan semak hijau abadi yang tersisa. Induk jerapah cenderung mencari makan di area terbuka, diduga untuk mempermudah pendeteksian predator, meskipun hal ini dapat mengurangi efisiensi makan mereka. Sebagai ruminansia, jerapah pertama-tama mengunyah makanannya, lalu menelannya untuk diproses, dan kemudian secara kasatmata menaikkan kembali mamahan yang setengah dicerna melalui leher kembali ke mulut untuk dikunyah lagi. Jerapah membutuhkan lebih sedikit makanan dibandingkan banyak herbivora lainnya karena dedaunan yang dimakannya memiliki nutrisi yang lebih terkonsentrasi dan ia memiliki sistem pencernaan yang lebih efisien. Feses hewan ini berbentuk pelet kecil. Saat memiliki akses ke air, jerapah tidak akan melewatkan lebih dari tiga hari tanpa minum.
Jerapah mempengaruhi pertumbuhan pada pohon-pohon yang mereka makan, menunda pertumbuhan pohon muda selama beberapa tahun dan menciptakan "garis pinggang" pada pohon-pohon yang sangat tinggi. Aktivitas makan mencapai puncaknya pada jam-jam pertama dan terakhir di siang hari. Di antara jam-jam tersebut, jerapah lebih sering berdiri dan memamah biak. Memamah biak merupakan aktivitas dominan pada malam hari, yang sebagian besar dilakukan sambil berbaring.
Kehidupan sosial
Jerapah biasanya membentuk kelompok yang bervariasi dalam ukuran dan komposisi sesuai dengan faktor ekologis, antropogenik, temporal, dan sosial. Secara tradisional, komposisi kelompok-kelompok ini digambarkan bersifat terbuka dan selalu berubah. Untuk tujuan penelitian, sebuah "kelompok" didefinisikan sebagai "kumpulan individu yang berjarak kurang dari satu kilometer satu sama lain dan bergerak ke arah umum yang sama". Studi-studi yang lebih baru menemukan bahwa jerapah memiliki kelompok sosial atau klik yang bertahan lama berdasarkan kekerabatan, jenis kelamin, atau faktor lain, dan kelompok-kelompok ini secara teratur berasosiasi dengan kelompok lain dalam komunitas atau sub-komunitas yang lebih besar dalam sebuah masyarakat fisi-fusi. Kedekatan dengan manusia dapat mengganggu tatanan sosial tersebut. Jerapah Masai di Tanzania memilah diri mereka ke dalam subpopulasi berbeda yang terdiri dari 60–90 betina dewasa dengan wilayah jelajah yang tumpang tindih, yang masing-masing memiliki perbedaan dalam tingkat reproduksi dan kematian anak. Dispersi cenderung didominasi oleh jantan, dan dapat mencakup dispersi spasial dan/atau sosial. Subpopulasi betina dewasa dihubungkan oleh pejantan menjadi komunitas super yang terdiri dari sekitar 300 ekor.
Jumlah jerapah dalam satu kelompok dapat berkisar dari satu hingga 66 individu. Kelompok jerapah cenderung tersegregasi berdasarkan jenis kelamin meskipun kelompok campuran yang terdiri dari betina dewasa dan jantan muda juga terjadi. Kelompok betina mungkin berkerabat secara matrilineal. Secara umum, betina lebih selektif daripada jantan saat memutuskan individu sesama jenis mana yang akan mereka ajak berasosiasi. Kelompok jerapah yang sangat stabil adalah kelompok yang terdiri dari induk dan anaknya, yang dapat bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Jantan muda juga membentuk kelompok dan akan terlibat dalam pertarungan main-main. Namun, seiring bertambahnya usia, jantan menjadi lebih soliter tetapi mungkin juga berasosiasi secara berpasangan atau dengan kelompok betina. Jerapah tidak bersifat teritorial, tetapi mereka memiliki wilayah jelajah yang bervariasi menurut curah hujan dan kedekatan dengan permukiman manusia. Jerapah jantan terkadang berkeliaran jauh dari daerah yang biasanya sering mereka kunjungi.
Para ahli biologi awal menduga bahwa jerapah bisu dan tidak mampu menciptakan aliran udara yang cukup untuk menggetarkan pita suara mereka. Hal ini telah terbukti sebaliknya; mereka tercatat berkomunikasi menggunakan dengusan, bersin, batuk, dengkuran, desisan, letupan, rintihan, geraman, raungan, dan suara seperti seruling. Selama masa bercumbu, jantan mengeluarkan suara batuk yang keras. Betina memanggil anaknya dengan melenguh. Anak jerapah akan mengeluarkan suara mengembik, melenguh, dan mengeong. Mendengus dan mendesis dikaitkan dengan kewaspadaan. Pada malam hari, jerapah tampak saling mendengung. Terdapat beberapa bukti bahwa jerapah menggunakan resonansi Helmholtz untuk menciptakan infrasonik. Mereka juga berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Jantan dominan memamerkan diri kepada jantan lain dengan postur tegak; mengangkat dagu dan kepala sambil berjalan kaku dan memperlihatkan sisi tubuh mereka. Yang kurang dominan menunjukkan ketundukan dengan menundukkan kepala dan telinga, menurunkan dagu, dan melarikan diri.
Reproduksi dan pengasuhan anak
Reproduksi pada jerapah secara garis besar bersifat poligami: beberapa jantan tua kawin dengan betina yang subur. Betina dapat bereproduksi sepanjang tahun dan mengalami siklus estrus kira-kira setiap 15 hari. Jerapah betina yang sedang estrus tersebar dalam ruang dan waktu, sehingga jantan dewasa yang reproduktif menerapkan strategi menjelajah di antara kelompok-kelompok betina untuk mencari kesempatan kawin, dengan perilaku birahi yang dipicu hormon secara periodik kira-kira setiap dua minggu. Jantan lebih menyukai betina dewasa muda dibandingkan betina remaja atau dewasa tua.
Jerapah jantan menilai kesuburan betina dengan mencicipi urin betina untuk mendeteksi estrus, dalam proses bertahap yang dikenal sebagai respons flehmen. Segera setelah betina yang sedang estrus terdeteksi, jantan akan mencoba mencumbunya. Saat bercumbu, jantan dominan akan menjauhkan jantan bawahan. Jantan yang sedang bercumbu mungkin menjilati ekor betina, menyandarkan kepala dan lehernya di tubuh betina, atau menyenggolnya dengan osikon. Selama kopulasi, jantan berdiri dengan tungkai belakangnya dengan kepala terangkat dan tungkai depannya bertumpu pada sisi tubuh betina.
Masa kehamilan jerapah berlangsung 400–460 hari, yang setelahnya seekor anak biasanya dilahirkan, meskipun kelahiran kembar jarang terjadi. Induk melahirkan dalam posisi berdiri. Anak jerapah keluar dengan kepala dan tungkai depan terlebih dahulu, setelah menembus selaput janin, dan jatuh ke tanah, yang memutuskan tali pusarnya. Seekor jerapah yang baru lahir tingginya 1,7–2 m (5 ft 7 in – 6 ft 7 in). Dalam beberapa jam setelah kelahiran, anak jerapah sudah bisa berlarian dan hampir tidak dapat dibedakan dari anak berusia satu minggu. Namun, selama satu hingga tiga minggu pertama, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersembunyi, dengan pola rambutnya yang memberikan kamuflase. Osikon, yang merebah rata saat di dalam rahim, akan tegak dalam beberapa hari.
Induk yang memiliki anak akan berkumpul dalam kawanan pengasuhan, bergerak atau meramban bersama. Induk dalam kelompok semacam itu terkadang meninggalkan anak-anak mereka bersama satu betina sementara mereka mencari makan dan minum di tempat lain. Hal ini dikenal sebagai "kelompok pengasuhan" (calving pool). Anak jerapah berisiko dimangsa, dan induk jerapah akan berdiri di atas mereka dan menendang predator yang mendekat. Betina yang mengawasi kelompok pengasuhan hanya akan memperingatkan anaknya sendiri jika mendeteksi gangguan, meskipun anak-anak yang lain akan menyadari dan mengikuti. Menyusu silang (allo-sucking), di mana anak jerapah menyusu pada betina selain induknya, telah tercatat baik pada jerapah liar maupun di penangkaran. Anak jerapah pertama kali memamah biak pada usia empat hingga enam bulan dan berhenti menyusu pada usia enam hingga delapan bulan. Anak jerapah mungkin belum mencapai kemandirian hingga mereka berusia 14 bulan. Betina mampu bereproduksi pada usia empat tahun, sementara spermatogenesis pada jantan dimulai pada usia tiga hingga empat tahun. Jantan harus menunggu hingga berusia setidaknya tujuh tahun untuk mendapatkan kesempatan kawin.
Adu leher
Jerapah jantan mendayagunakan leher mereka sebagai senjata dalam pertarungan, sebuah perilaku yang dikenal sebagai "adu leher" (necking). Adu leher digunakan untuk menegakkan dominasi, dan pejantan yang memenangkan pertarungan ini memiliki keberhasilan reproduksi yang lebih besar. Perilaku ini terjadi pada intensitas rendah atau tinggi. Dalam adu leher berintensitas rendah, para petarung saling bergesekan dan bersandar satu sama lain. Pejantan yang mampu mempertahankan posisi lebih tegak memenangkan pertarungan tersebut. Pada adu leher berintensitas tinggi, para petarung akan merentangkan tungkai depan mereka dan mengayunkan leher ke arah lawan, berusaha mendaratkan hantaman menggunakan osikon mereka. Jerapah yang beradu leher akan mencoba menghindari pukulan lawan dan kemudian bersiap untuk membalas. Kekuatan hantaman bergantung pada bobot tengkorak dan busur ayunan. Duel adu leher dapat berlangsung lebih dari setengah jam, tergantung pada seberapa seimbang kekuatan kedua petarung. Meskipun sebagian besar pertarungan tidak menyebabkan cedera serius, pernah tercatat adanya kasus rahang patah, leher patah, dan bahkan kematian.
Setelah berduel, lazim bagi dua jerapah jantan untuk saling membelai dan bercumbu. Interaksi antarpejantan semacam ini ditemukan lebih sering terjadi dibandingkan kopulasi heteroseksual. Dalam sebuah studi, hingga 94 persen insiden penunggangan yang diamati terjadi di antara pejantan. Proporsi aktivitas sesama jenis bervariasi dari 30 hingga 75 persen. Hanya satu persen insiden penunggangan sesama jenis yang terjadi di antara betina.
Mortalitas dan kesehatan
Jerapah memiliki probabilitas kelangsungan hidup dewasa yang tinggi, dan rentang hidup yang luar biasa panjang dibandingkan ruminansia lain, hingga mencapai 38 tahun. Kelangsungan hidup betina dewasa berkorelasi secara signifikan dengan jumlah asosiasi sosial. Karena ukuran tubuh, penglihatan, dan tendangan mereka yang kuat, jerapah dewasa sebagian besar aman dari predasi, dengan singa menjadi satu-satunya ancaman utama mereka. Anak jerapah jauh lebih rentan dibandingkan dewasa dan juga dimangsa oleh macan tutul, dubuk (hyena) tutul, dan iganyana. Seperempat hingga setengah dari anak jerapah mencapai usia dewasa. Kelangsungan hidup anak bervariasi menurut musim kelahiran, di mana anak yang lahir selama musim kemarau memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi.
Kehadiran musiman kawanan besar wildebeest dan zebra yang bermigrasi secara lokal mengurangi tekanan predasi terhadap anak jerapah dan meningkatkan probabilitas kelangsungan hidup mereka. Sebaliknya, telah disarankan bahwa ungulata lain mungkin memperoleh keuntungan dengan berasosiasi bersama jerapah, karena tinggi badan jerapah memungkinkan mereka untuk mendeteksi predator dari jarak yang lebih jauh. Zebra diketahui menilai risiko predasi dengan mengamati jerapah dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk melihat sekeliling saat jerapah hadir.
Beberapa parasit mencari makan pada jerapah. Mereka sering menjadi inang bagi caplak, terutama di area sekitar alat kelamin, yang memiliki kulit lebih tipis dibandingkan area lainnya. Spesies caplak yang umum memakan darah jerapah adalah dari genus Hyalomma, Amblyomma, dan Rhipicephalus. Burung oxpecker paruh merah dan oxpecker paruh kuning membersihkan caplak dari jerapah dan memperingatkan mereka akan bahaya. Jerapah menjadi inang bagi banyak spesies parasit internal dan rentan terhadap berbagai penyakit. Mereka pernah menjadi korban penyakit virus sampar sapi (yang kini telah musnah). Jerapah juga dapat menderita kelainan kulit, yang muncul dalam bentuk kerutan, lesi, atau celah kulit yang lecet. Sebanyak 79% jerapah menunjukkan gejala penyakit ini di Taman Nasional Ruaha, tetapi penyakit ini tidak menyebabkan kematian di Tarangire dan kurang lazim di daerah dengan tanah yang subur.
Hubungan dengan manusia


Dalam budaya
Dengan perawakannya yang jangkung dan pola rambut tutulnya, jerapah telah menjadi sumber kekaguman sepanjang sejarah manusia, dan citranya tersebar luas dalam budaya. Hewan ini telah mewakili fleksibilitas, pandangan jauh ke depan, feminitas, kerapuhan, kepasifan, keanggunan, kecantikan, dan benua Afrika itu sendiri.
Jerapah digambarkan dalam seni di seluruh benua Afrika. Bangsa Kiffian bertanggung jawab atas ukiran batu seukuran aslinya yang menampilkan dua ekor jerapah, bertarikh 8.000 tahun yang lalu, yang disebut sebagai "petroglif seni cadas terbesar di dunia". Berdasarkan bukti-bukti termasuk periuk tanah liat yang diukir, para arkeolog kini meyakini bahwa, dalam masyarakat Kush kuno yang terletak di Nubia, atau yang sekarang menjadi bagian utara Sudan, jerapah mungkin ditampilkan dalam agama populer dan agama kaum wanita, meskipun tidak dalam agama kaum elite atau kerajaan, dan mungkin juga memiliki hubungan dengan kepercayaan tentang matahari. Suku Tugen di Kenya modern menggunakan jerapah untuk menggambarkan dewa mereka, Mda. Bangsa Mesir memberikan hieroglif tersendiri bagi jerapah; 'sr' dalam bahasa Mesir Lama dan 'mmy' pada periode-periode selanjutnya. Bagaimana jerapah mendapatkan tinggi badannya telah menjadi subjek berbagai cerita rakyat Afrika.
Jerapah banyak diangkat dalam budaya Barat modern. Salvador Dalí melukiskan mereka dengan surai yang terbakar dalam beberapa lukisan surealis. Dali menganggap jerapah sebagai simbol maskulin. Jerapah yang terbakar dimaksudkan sebagai "monster apokaliptik kosmik maskulin". Beberapa buku anak-anak menampilkan jerapah, termasuk The Giraffe Who Was Afraid of Heights karya David A. Ufer, Giraffes Can't Dance karya Giles Andreae, dan The Giraffe and the Pelly and Me karya Roald Dahl. Jerapah muncul dalam film animasi sebagai karakter minor dalam Dumbo dan The Lion King produksi Disney, serta dalam peran yang lebih menonjol dalam film The Wild dan seri film Madagascar. Sophie the Giraffe telah menjadi mainan gigitan bayi (teether) yang populer sejak tahun 1961. Jerapah fiksi terkenal lainnya adalah maskot Toys "R" Us, Geoffrey the Giraffe.
Jerapah juga telah digunakan untuk beberapa eksperimen dan penemuan ilmiah. Para ilmuwan telah menggunakan sifat-sifat kulit jerapah sebagai model bagi pakaian antariksawan dan pakaian pilot tempur karena orang-orang dalam profesi ini berada dalam bahaya pingsan jika darah mengalir deras ke kaki mereka. Ilmuwan komputer telah memodelkan pola rambut beberapa subspesies menggunakan mekanisme reaksi–difusi. Rasi bintang Camelopardalis, yang diperkenalkan pada abad ke-17, menggambarkan seekor jerapah. Suku Tswana di Botswana secara tradisional memandang rasi bintang Crux sebagai dua ekor jerapah—Acrux dan Mimosa membentuk jantan, serta Gacrux dan Delta Crucis membentuk betina.
Penangkaran
Bangsa Mesir termasuk orang-orang yang paling awal memelihara jerapah di penangkaran dan mengirimkannya ke sekitar Mediterania. Jerapah termasuk di antara banyak hewan yang dikoleksi dan dipamerkan oleh bangsa Romawi. Yang pertama di Roma dibawa oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM. Dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat, pemeliharaan jerapah di Eropa menurun. Selama Abad Pertengahan, jerapah dikenal oleh orang Eropa melalui kontak dengan orang Arab, yang memuja jerapah karena penampilannya yang unik.
Individu jerapah tawanan diberikan status selebritas sepanjang sejarah. Pada tahun 1414, seekor jerapah dari Malindi dibawa ke Tiongkok oleh penjelajah Zheng He dan ditempatkan di kebun binatang Dinasti Ming. Hewan ini menjadi sumber kekaguman bagi rakyat Tiongkok, yang mengasosiasikannya dengan Qilin yang mistis. Jerapah Medici adalah seekor jerapah yang dipersembahkan kepada Lorenzo de' Medici pada tahun 1486. Kedatangannya menimbulkan kehebohan besar di Firenze. Zarafa, jerapah terkenal lainnya, dibawa dari Mesir ke Paris pada awal abad ke-19 sebagai hadiah untuk Charles X dari Prancis. Sebagai sebuah sensasi, jerapah tersebut menjadi subjek berbagai memorabilia atau "giraffanalia".
Jerapah telah menjadi atraksi populer di kebun binatang modern, meskipun memelihara mereka sulit karena mereka menyukai area yang luas dan perlu memakan rambanan dalam jumlah besar. Jerapah tawanan di Amerika Utara dan Eropa tampaknya memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada di alam liar, dengan penyebab paling umum adalah peternakan, nutrisi, dan manajemen yang buruk. Jerapah di kebun binatang menunjukkan perilaku stereotip, khususnya menjilati benda mati dan mondar-mandir. Penjaga kebun binatang dapat menawarkan berbagai aktivitas untuk menstimulasi jerapah, termasuk melatih mereka untuk mengambil makanan dari pengunjung. Kandang jerapah dibangun sangat tinggi untuk mengakomodasi tinggi badan mereka.
Eksploitasi
Jerapah kemungkinan besar merupakan sasaran umum bagi para pemburu di seluruh Afrika. Berbagai bagian tubuh mereka dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Dagingnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Rambut ekornya dijadikan penebah lalat, gelang, kalung, dan benang. Perisai, sandal, dan gendang dibuat menggunakan kulitnya, sementara dawai instrumen musik berasal dari tendonnya. Di Buganda, asap dari kulit jerapah yang dibakar secara tradisional digunakan untuk mengobati mimisan. Suku Humr di Kordofan mengonsumsi minuman Umm Nyolokh, yang diolah dari hati dan sumsum tulang jerapah. Richard Rudgley menghipotesiskan bahwa Umm Nyolokh mungkin mengandung DMT. Minuman ini konon menyebabkan halusinasi berupa jerapah, yang diyakini oleh suku Humr sebagai hantu jerapah.
Status konservasi

Pada tahun 2016, jerapah dinilai sebagai spesies Rentan dari perspektif konservasi oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Pada tahun 1985, diperkirakan terdapat 155.000 jerapah di alam liar. Jumlah ini menurun menjadi lebih dari 140.000 pada tahun 1999. Estimasi per tahun 2016 menunjukkan terdapat sekitar 97.500 anggota Giraffa di alam liar. Subspesies Masai dan retikulata berstatus genting, dan subspesies Rothschild berstatus hampir terancam. Subspesies Nubia berstatus terancam kritis. Pada tahun 2025, IUCN saat ini mengakui empat spesies jerapah dengan tujuh subspesies.
Penyebab utama penurunan populasi jerapah adalah hilangnya habitat dan pembunuhan langsung untuk pasar daging semak. Jerapah telah punah secara lokal dari sebagian besar wilayah persebaran historisnya, termasuk Eritrea, Guinea, Mauritania, dan Senegal. Mereka mungkin juga telah menghilang dari Angola, Mali, dan Nigeria, tetapi telah diintroduksi ke Rwanda dan Eswatini. Hingga 2010, terdapat lebih dari 1.600 ekor di penangkaran pada kebun binatang yang terdaftar di Species360. Perusakan habitat telah merugikan jerapah. Di Sahel, kebutuhan akan kayu bakar dan ruang penggembalaan ternak telah menyebabkan deforestasi. Biasanya, jerapah dapat hidup berdampingan dengan ternak, karena mereka menghindari persaingan langsung dengan cara mencari makan di lapisan vegetasi yang lebih tinggi daripada ternak. Pada tahun 2017, kekeringan parah di Kenya utara menyebabkan meningkatnya ketegangan atas lahan dan pembunuhan satwa liar oleh para penggembala, dengan populasi jerapah yang terdampak cukup parah.
Kawasan lindung seperti taman nasional menyediakan habitat penting dan perlindungan anti-perburuan liar bagi populasi jerapah. Upaya konservasi berbasis masyarakat di luar taman nasional juga efektif dalam melindungi jerapah dan habitatnya. Cagar alam swasta telah berkontribusi pada pelestarian populasi jerapah di Afrika bagian timur dan selatan. Jerapah adalah spesies yang dilindungi di sebagian besar wilayah persebarannya. Jerapah merupakan hewan nasional Tanzania, dan dilindungi oleh undang-undang, serta pembunuhan tanpa izin dapat mengakibatkan hukuman penjara. Konvensi Spesies Bermigrasi yang didukung PBB memilih jerapah untuk dilindungi pada tahun 2017. Pada tahun 2019, jerapah terdaftar dalam Apendiks II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah (CITES), yang berarti perdagangan internasional termasuk bagian/turunannya diatur.
Translokasi terkadang digunakan untuk menambah atau memulihkan populasi yang menyusut atau punah lokal, namun aktivitas ini berisiko dan sulit dilakukan menggunakan praktik terbaik studi ekstensif pra- dan pascatranslokasi serta memastikan populasi pendiri yang layak. Survei udara adalah metode yang paling umum untuk memantau tren populasi jerapah di bentang alam Afrika yang luas dan tanpa jalan, tetapi metode udara diketahui sering menghasilkan perhitungan yang lebih rendah dari jumlah sebenarnya. Metode survei berbasis darat lebih akurat dan dapat digunakan bersama dengan survei udara untuk membuat estimasi ukuran dan tren populasi yang akurat.
Lihat pula
- Fauna Afrika
- Giraffe Centre
- Giraffe Manor - hotel di Nairobi dengan jerapah
Pranala luar
- Situs web resmi dari Giraffe Conservation Foundation
