Lokomotif CC206 adalah lokomotif diesel-elektrik yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia, serta diproduksi khusus untuk Indonesia oleh GE Transportation. Lokomotif dengan model pabrikan GE CM20EMP ini merupakan lokomotif serba guna yang awalnya ditujukan untuk operasional kereta api barang, tetapi kemudian juga digunakan untuk kereta api penumpang.
Lokomotif ini mulai beroperasi pada tahun 2013 dan menjadi tulang punggung utama operasional kereta api di Indonesia. Lokomotif ini beroperasi di jalur utama Pulau Jawa untuk menarik rangkaian kereta penumpang maupun barang, serta di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung untuk menarik kereta barang—terutama rangkaian kereta angkutan batu bara dari Tanjung Enim menuju Kertapati. Lokomotif ini memiliki desain kabin ganda dan merupakan lokomotif kabin ganda yang paling aktif digunakan di Indonesia pada abad ke-21.
Lokomotif CC206 merupakan lokomotif terakhir produksi GE Transportation yang didesain, diproduksi, dan diekspor secara khusus untuk Indonesia, sebelum divisi tersebut dijual oleh General Electric ke Wabtec pada tahun 2018–2019.
Sejarah


Keberadaan lokomotif berkabin ganda di Indonesia berawal dari lokomotif berusia tua yang pernah beroperasi, seperti lokomotif CC200, BB301, BB304, dan BB305 CFD. Namun, semua lokomotif tersebut telah berumur lebih dari 30–40 tahun dan banyak dilakukan pengafkiran/perucatan pada lokomotif tersebut.
Generasi pertama
Keputusan untuk menghadirkan lokomotif kabin ganda bertenaga besar muncul pada tahun 2010 sebagai bagian dari program peremajaan armada lokomotif PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pada 2 April 2010, Antara melaporkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2009, armada lokomotif, kereta, dan gerbong KAI terus menyusut, dengan lokomotif yang awalnya berjumlah 406 unit menjadi 330 unit yang siap beroperasi. KAI disebut merencanakan pengadaan 150 lokomotif dan 2.400 kereta dan gerbong baru, dengan nilai investasi awal sebesar Rp5 triliun.
Setelah mengadakan 20 unit CC204 pada 2011, PT KAI kembali memesan lokomotif model baru setelah armadanya susut menjadi 320 unit pada 2012. KAI kembali memercayakan GE Transportation, setelah memenangkan tender pengadaan 100 lokomotif baru yang awalnya dihadirkan untuk angkutan kereta api barang di Sumatra. Nilai kontraknya adalah sebesar Rp4 triliun. Sugeng Priyono, yang kala itu menjabat sebagai sekretaris perusahaan, menyebut bahwa KAI memperoleh pembiayaan pengadaan lokomotif baru dari pinjaman Bank Negara Indonesia (BNI) dengan nilai Rp4,2 triliun. Sebagai langkah awal, KAI memprioritas pengadaan 144 lokomotif, yakni 100 yang dipasok sampai akhir tahun 2012.
Terkait dengan rancang bangun lokomotif, KAI mengandalkan desain kabin ganda sesuai yang dipersyaratkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) sebagai regulator. Di samping mengadakan lokomotif, KAI juga merencanakan pengadaan 1.200 gerbong terbuka untuk angkutan batu bara melalui tender PT Petrotama International dan pabrikan Tiongkok, Babtou BeFang Chuangye Co., Ltd, dan 1.200 gerbong datar untuk angkutan peti kemas melalui tender dengan PT INKA.
Lokomotif-lokomotif yang kemudian diberi nomor seri CC206 tersebut didatangkan sepanjang tahun 2013, tanpa dipasangi bogie. Bogie dirakit oleh PT Barata Indonesia (Persero). Pada 2013, sebanyak seratus unit lokomotif CC206 yang dipesan tiba secara bertahap di Pelabuhan Tanjung Priok. Proses kedatangan lokomotif ini didatangkan dalam sejumlah kloter, dan pada saat musim mudik Lebaran 2013, sebanyak 55 lokomotif CC206 berstatus siap operasi. Saat tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, lokomotif-lokomotif tersebut kemudian diangkut ke Balai Yasa Yogyakarta menggunakan truk besar untuk dilakukan pemasangan bogie.
Generasi kedua
Pada 25 September 2013, Direktur Utama KAI kala itu, Ignasius Jonan, mengungkapkan bahwa KAI berencana akan menambah 50 lokomotif baru. Dalam proses pengadaannya, KAI mengaku telah mendapat pendanaan dari pinjaman tiga bank Himbara, yakni Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Selain pengadaan lokomotif tersebut, KAI merencanakan untuk membangun lima stasiun kereta api baru di Lampung dan Sumatera Selatan guna meningkatkan kapasitas angkut KA barang di sana.
Total perencanaan lokomotif CC206 adalah 150 unit sesuai yang ditargetkan. Adapun alokasi awalnya adalah 100 unit di Jawa dan 50 unit di Sumatera Selatan. Pada 15 Oktober 2014, PT KAI kembali memesan 50 unit lokomotif CC206 kepada GE Transportation setelah perusahaan tersebut mendapat kredit ekspor dari Export-Import Bank of the United States dengan nilai kontrak US$94,3 juta. Lokomotif CC206 yang dialokasikan untuk Sumatera Selatan ini hanya akan difokuskan untuk angkutan batu bara di sana. Sebanyak 39 unit lokomotif tiba pada 2015, sementara 11 unit sisanya tiba pada 2016. Pengadaannya sama seperti pengadaan tahun 2013, yakni tanpa bogie, dengan bogie dirakit di Barata juga.
Operasional



Rancang bangun
Menurut Eko Budiyanto, Humas KAI Daerah Operasi VI Yogyakarta, lokomotif CC206 memiliki daya mesin sebesar 2.250 hp (1.680 kW) dengan emisi gas buang lebih rendah, serta mampu menarik hingga 16 kereta penumpang dan gerbong batu bara isi hingga mencapai 800 m (2.600 ft). Hanya dalam praktiknya, lokomotif ini akan menarik 12 kereta penumpang karena terbatasnya panjang peron. Dengan desain dua kabin, lokomotif ini juga tidak memerlukan langsir maupun putar haluan.
Lokomotif ini dilengkapi perangkat elektronik komputer GE BrightStar Sirius yang dipadukan dengan layar monitor GE Integrated Function Display seperti lokomotif Dash-9, sehingga menjadi lokomotif yang dilengkapi layar monitor komputer kendali kedua di Indonesia setelah CC205 dan lokomotif GE Transportation pertama di Indonesia yang dilengkai dengan layar tersebut. Hal ini berbeda dengan lokomotif CC204 yang juga menggunakan perangkat elektronik komputer GE BrightStar Sirius, tetapi tidak memiliki layar monitor seperti di lokomotif CC206.
Tampilan
Semua lokomotif CC206 menggunakan pola pengecatan Next Step KAI sebagai pola pengecatan bawaan.
Pada 18 hingga 25 September 2026, komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Balai Yasa Yogyakarta memperkenalkan beberapa pola pengecatan lain untuk lokomotif CC206, di antaranya:
- CC 206 16 02: Pola pengecatan merah merona dan biru dongker (skema warna Perumka).
- CC 206 13 76 dan CC 206 13 61: Pola pengecatan warna hijau tua kehitaman dari unit kereta wisata The Nusantara Explorer. Sepenuhnya dilakukan atas inisiatif KAI sendiri, ditujukan khusus untuk operasional kereta wisata tersebut.
- CC 206 13 25: Pola pengecatan lokomotif CC200. Diperkenalkan dalam ajang kereta luar biasa napak tilas 159 tahun jalur kereta api Semarang–Tanggung pada 25 September 2026.
Sebaran lokomotif
| Depo | Jumlah |
|---|---|
| Cipinang (CPN) | 30 |
| Bandung (BD) | 20 |
| Cirebon (CN) | 11 |
| Semarang Poncol (SMC) | 6 |
| Purwokerto (PWT) | 10 |
| Yogyakarta (YK) | 18 |
| Sidotopo (SDT) | 25 |
| Kertapati (KPT) | 28 |
| Total | 149 |
Keseluruhan unit lokomotif CC206 generasi pertama yang berjumlah 100 unit, ditempatkan di seluruh depo induk lokomotif yang berada di Pulau Jawa, kecuali Depo Induk Madiun dan Depo Induk Jember. Lokomotif ini utamanya digunakan untuk keperluan angkutan kereta api penumpang unggulan maupun barang.
Kemudian, sebanyak 11 unit lokomotif CC206 generasi kedua pada awalnya dialokasikan untuk Depo Induk di Jawa, sementara sisanya sebanyak 28 unit generasi IIA dan 11 unit generasi IIB dialokasikan untuk Divisi Regional III Palembang dan ditempatkan di Depo Induk Kertapati, setelah sebelumnya dilakukan uji coba di Jawa. Seluruh lokomotif CC206 yang berada di Pulau Sumatra digunakan untuk kebutuhan kereta api angkutan batu bara swasta dan berbagai kereta api angkutan barang di Divisi Regional III Palembang. Pada Desember 2025 dan Februari 2026, sebanyak 19 lokomotif CC206 generasi kedua dimutasikan dari Kertapati ke Jawa, dengan 7 di antaranya merupakan lokomotif yang sempat dimutasikan dari Jawa ke Kertapati antara 2021-2024.
Depo Lokomotif Kertapati tercatat sebagai depo lokomotif dengan kepemilikan lokomotif CC206 terbanyak nomor 2 setelah Depo Lokomotif Cipinang. Saat ini, terdapat 1 unit lokomotif CC206 yang berstatus konservasi, yaitu CC 206 13 97 BD yang mengalami tabrakan kereta api Cicalengka 2024.
Insiden

Pada 12 September 2013, terjadi kebakaran permukiman penduduk di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang yang mengakibatkan lokomotif CC 206 13 16 yang melangsir kereta api angkutan BBM Pertamina terbakar.
Pada 4 April 2014, pukul 18.30 WIB, kereta api Malabar anjlok di km 224, Kampung Terung, Mekarsari, Kadipaten, Tasikmalaya karena terjadi tanah longsor. Kejadian ini mengakibatkan lokomotif CC 206 13 55 beserta dua kereta kelas eksekutif terperosok lalu keluar rel. Akibat beratnya medan, proses evakuasi lokomotif CC 206 13 55 terhambat. Imbas pada kejadian tersebut, lalu lintas jalur selatan Jawa di koridor Bandung–Kutoarjo terhambat.
Pada 4 Mei 2014, lokomotif CC 206 13 69 yang menarik kereta api Bogowonto beserta kereta pembangkit (P 0 08 01) terguling setelah menabrak truk kontainer di Cirebon, Jawa Barat.
Pada 23 Mei 2015, CC 206 13 23 yang menarik kereta api Bangunkarta tergelincir dan terguling di Stasiun Waruduwur, Cirebon dan menabrak rangkaian KA 2502 kereta api pipa besar.
Pada 29 Agustus 2015, lokomotif CC 206 15 07 menabrak sepur badug dan sebuah warung di dekat Balai Yasa Yogyakarta karena gagal uji rem. Manager Corporate Communication Daerah Operasi VI Yogyakarta, Gatut Sutiyatmoko, meyakini bahwa kejadian tersebut murni disebabkan oleh kegagalan rem. Saat itu, balai yasa bekerja sama dengan GE Transportation untuk melakukan uji coba lokomotif CC206.
Pada 9 September 2016, lokomotif CC206 13 13 yang menarik kereta api semen ditabrak kereta derek pemeliharaan listrik aliran atas (LAA) di km 46+500 petak Bojonggede–Cilebut, tidak jauh dari Stasiun Bojong Gede. Kejadian ini mengakibatkan kabin CC206 tersebut rusak dan mengganggu jadwal perjalanan Commuter Line Jabodetabek lintas Bogor-Jakarta.
Pada 20 Mei 2017 pukul 10.30 WIB, lokomotif CC 206 13 92 yang menarik KA 1 Argo Bromo Anggrek tujuan Stasiun Gambir terbakar setelah menabrak mobil di perlintasan tak berpalang, 500 meter (0,31 mi) dari Stasiun Sedadi. Kejadian ini mengakibatkan empat penumpang mobil tewas, sementara perjalanan KA Argo Bromo Anggrek terhambat karena menunggu lokomotif penolong dari Depo Lokomotif Semarang Poncol.
Pada 21 Mei 2017 pukul 21.52 WIB, lokomotif CC206 13 69—lokomotif yang pernah mengalami kecelakaan KA Bogowonto pada 2014—yang menarik KA 3 Argo Bromo Anggrek tujuan Stasiun Gambir mengalami kerusakan di bagian depan akibat menabrak mobil bak terbuka di Randublatung, Blora.
Pada 30 Maret 2023, lokomotif CC 206 13 99 yang menarik KA Turangga menabrak truk pakan ternak di perlintasan kereta api nomor 76 antara Stasiun Jombang–Stasiun Sembung di Jatipelem, Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kecelakaan disebabkan karena truk yang mogok saat berada di perlintasan. Lokomotif CC206 13 99 ringsek, sementara tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi lalu lintas kereta api jalur selatan dan utara Pulau Jawa di koridor Madiun–Surabaya lumpuh.
Pada 29 September 2023, llokomotif CC 206 13 46 yang menarik KA Jayakarta menabrak forklift di perlintasan sebidang Kampung Baru dipetak antara Stasiun Lemahabang dan Kedunggedeh, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kecelakaan disebabkan oleh forklift yang tersangkut di badan rel. Lokomotif CC206 13 46 anjlok dan bogienya penyok yang menyebabkan lokomotif tidak dapat berjalan dan harus menggunakan roda tambahan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Pada 17 Oktober 2023. pukul 13.15 WIB KA Argo Semeru (KA 17) dengan lokomotif CC206 15 05 SDT menuju Jakarta Gambir anjlok hingga keluar jalur di km 520+4 petak antara Stasiun Sentolo dan Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Setelah berselang beberapa saat, KA Argo Wilis (KA 6) dengan lokomotif CC206 13 53 BD mengarah Surabaya Gubeng menyerempet rangkaian KA Argo Semeru dan terdapat kerusakan pada bagian kiri lokomotif. Penyebab dari kecelakaan ini adalah terdapat perbaikan rel yang belum selesai. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut, tetapi jalur selatan Jawa di koridor Kutoarjo–Yogyakarta lumpuh total karena tertutup oleh kedua kereta tersebut.
Pada 5 Januari 2024 pukul 06.03 WIB, terjadi adu banteng antara KA 350 Commuter Line Bandung Raya dan KA 65A Turangga di petak km 181+700 antara Stasiun Haurpugur dan Stasiun Cicalengka. Insiden ini melibatkan dua lokomotif. Lokomotif CC 201 77 17 ringsek sehingga diafkirkan di Balai Yasa Yogyakarta sedangkan lokomotif CC 206 13 97 BD rusak di bagian underframe dan masih bisa diperbaiki. Insiden ini telah memakan korban jiwa pegawai kereta sebanyak 4 orang dan 37 orang lainnya mengalami luka-luka.
Pada 25 September 2024 dini hari, kereta api Taksaka (KA 70) relasi Gambir–Yogyakarta dengan lokomotif CC 206 13 78 menabrak sebuah truk pengaduk beton di perlintasan sebidang antara Stasiun Sentolo dan Rewulu, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Lokomotif ini mengalami kerusakan pada bagian depan, serta terdapat kerusakan pada 1 kereta penumpang kelas eksekutif. Tidak ada korban jiwa atas insiden tersebut, tetapi masinis dan asisten masinis mengalami luka-luka.
Pada 8 April 2025, Kereta api Harina relasi Bandung–Surabaya Pasar Turi yang ditarik oleh Lokomotif CC206 13 25 menabrak truk di perlintasan didaerah Kaligawe, Semarang, yang disebabkan oleh supir truk yang menerobos palang pintu perlintasan saat pintu sedang ditutup, pada akhirnya kereta api Harina menabrak truk tersebut yang menyebabkan supir truk tewas dan penumpang truk terluka ringan.
Pada 27 April 2026, kereta api Argo Bromo Anggrek yang ditarik CC206 13 86 CPN terlibat tabrakan dengan KRL Tokyo Metro 6000 di Stasiun Bekasi Timur. Insiden ini menyebabkan 16 korban tewas yang termasuk wanita & 88 hingga 91 korban luka-luka serta kerusakan signifikan pada rangkaian KRL yang terlibat serta mengganggu operasional perjalanan kereta api di lintas tersebut.
Galeri






Livery tematik
Fungsi sebagai kereta barang
Referensi
Kutipan
Daftar pustaka
Dokumen primer
- GE Transportation (2016). GE Transportation Locomotive Product Catalog (dalam bahasa Inggris). Erie, Pennsylvania. Diarsipkan dari asli tanggal 6 September 2023. Diakses tanggal 22 Juni 2024.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
