factograf
ID

Istilah Buddhisme

Avijjā

All data from the card 13
Indonesia
ketidaktahuan,kebodohan
Inggris
ignorance, misconceptions
Pali
avijjā (Brah.: 𑀅𑀯𑀺𑀚𑁆𑀚𑀸)
Sanskerta
avidyā (Dev: अविद्या)
Tionghoa
無明 (Pinyin: wú míng)
Jepang
無明 (mumyō)
Korea
(Hangeul) 무명(Hanja) 無明 (RR: mu myeong)
Tibet
མ་རིག་པ (Wylie: ma rig pa; THL: ma rigpa)
Myanmar
အဝိဇ္ဇာ (MLCTS: əweɪʔzà)
Thai
อวิชชา(RTGS: awitcha)
Vietnam
vô minh
Khmer
អវិជ្ជា, អវិទ្យា (UNGEGN: âvĭchchéa, âvĭtyéa)
Sinhala
අවිද්‍යාව

Dalam Buddhisme, avijjā (Pali; Sanskerta: अविद्या, avidyā), diterjemahkan sebagai ketidaktahuan, kebodohan, atau ketidakbijaksanaan, merujuk pada kesalahpahaman atas hakikat realitas, khususnya tentang ketidakkekalan (anicca) dan tanpa atma (anatta). Avijjā sinonim dengan faktor-mental moha (delusi, kekeliruan, kebodohan batin) dalam Abhidhamma Theravāda. Avijjā adalah akar penyebab dari dukkha (duka, penderitaan, rasa sakit, ketidakpuasan), dan dinyatakan sebagai mata rantai pertama, dalam Kemunculan Bersebab, dari sebuah proses yang mengarah pada punarbawa.

Avijjā disebutkan dalam ajaran Buddha dalam berbagai konteks:

Gambaran umum

Avijjā dijelaskan dengan berbagai cara atau pada tingkat yang berbeda dalam ajaran atau tradisi Buddhis yang berbeda. Pada tingkat yang paling mendasar, ini adalah ketidaktahuan atau salah pemahaman tentang hakikat realitas; lebih spesifik lagi tentang hakikat ajaran Tanpa-Diri dan sebab-musabab yang saling bergantungan. Avijjā tidak berarti "kekurangan informasi," menurut Peter Harvey, melainkan "salah persepsi tentang realitas yang lebih mendalam". Gethin menyebut avijjā sebagai "kesalahpahaman positif", bukan sekadar ketiadaan pengetahuan. Ini adalah konsep kunci dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa ketidaktahuan terhadap hakikat realitas, alih-alih dosa sebagaimana dalam agama-agama Abrahamik, dianggap sebagai akar mendasar dari dukkha. Lenyapnya avijjā ini membawa pada akhir dari dukkha.

Meskipun istilah avidyā atau avijjā yang ditemukan dalam agama Buddha dan sistem pemikiran India lainnya sering diterjemahkan sebagai "ignorance (ketidaktahuan)" dalam bahasa Inggris, Alex Wayman menyatakan bahwa ini adalah salah terjemahan karena maknanya lebih dari sekadar ignorance. Ia menyarankan istilah "unwisdom (ketidakbijaksanaan)" sebagai padanan yang lebih baik. Istilah tersebut tidak hanya mencakup ketidaktahuan karena kegelapan, tetapi juga pengaburan, kesalahpahaman, salah mengira ilusi sebagai realitas, atau yang tidak kekal sebagai kekal, atau penderitaan sebagai kebahagiaan, atau bukan-diri sebagai diri (delusi). Pengetahuan yang salah adalah bentuk lain dari avidyā atau avijjā, menurut Wayman.

““Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terpelajar, yang bukan merupakan salah satu di antara para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan salah satu di antara orang-orang superior dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Ia menganggap perasaan sebagai diri … persepsi sebagai diri … bentukan-bentukan sebagai diri … kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.

“Demikianlah cara menganggap segala sesuatu dan [gagasan] ‘Aku’ ini belum lenyap dalam dirinya. Karena ‘aku’ belum lenyap, di sana terjadi suatu turunan dari lima indria—indria mata, indria telinga, indria hidung, indria lidah, indria badan. Ada, para bhikkhu, pikiran, ada fenomena-fenomena pikiran, ada unsur ketidaktahuan. Ketika kaum duniawi yang tidak terpelajar terkontak oleh perasaan yang muncul dari kontak-ketidaktahuan, maka ‘aku’ muncul padanya; ‘aku adalah ini’ muncul padanya; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’, dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini muncul padanya.

“Lima indria itu tetap ada di sana, para bhikkhu, namun sehubungan dengan lima indria itu, siswa mulia yang terpelajar meninggalkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan sejati. Dengan meluruhnya ketidaktahuan dan munculnya pengetahuan sejati, ‘aku’ tidak muncul padanya; ‘aku adalah ini’ tidak muncul padanya’; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’ dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini tidak muncul padanya.”

”— Samanupassanā Sutta, SN 22.47
terj. Indra Anggara


Dalam konteks lain, avidyā atau avijjā mencakup ketidaktahuan atau ketidakpahaman atas hakikat ketidakkekalan (anicca) dari berbagai fenomena, Empat Kebenaran Mulia, ajaran Buddhis lainnya, atau jalan untuk mengakhiri penderitaan. Sonam Rinchen menyatakan ketidaktahuan dalam konteks dua belas mata rantai (Kemunculan Bersebab) bahwa, "Ketidaktahuan adalah kebalikan dari pemahaman bahwa seseorang atau fenomena lain tidak memiliki eksistensi intrinsik. Mereka yang dipengaruhi oleh ketidaktahuan ini menciptakan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan mereka ke dalam keberadaan duniawi lanjutan." Tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, atau implikasinya, juga merupakan avijjā.

Dalam tradisi-tradisi

Theravāda

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
Ketidaktahuan (avijjā)
↓
Formasi (saṅkhārā)
↓
Kesadaran (viññāṇa)
↓
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
↓
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
↓
Kontak (phassa)
↓
Perasaan (vedanā)
↓
Nafsu (taṇhā)
↓
Kemelekatan (upādāna)
↓
Kemenjadian (bhava)
↓
Kelahiran (jati)
↓
Tua & Mati (jarā-maraṇa)
  • l
  • b
  • s

Bhikkhu Bodhi menyatakan bahwa avijjā merupakan bagian penting dari ajaran Abhidhamma Theravāda tentang kemunculan yang bergantung (paṭiccasamuppāda) pada kondisi yang menopang siklus kelahiran dan kematian. Salah satu kondisi tersebut adalah formasi karma yang muncul dari avijjā. Dengan kata lain, Bodhi menyatakan, ketidaktahuan (avijjā) mengaburkan "persepsi tentang hakikat sejati segala sesuatu sebagaimana katarak mengaburkan persepsi objek yang terlihat". Dalam literatur Suttanta, ketidaktahuan ini mengacu pada ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia. Dalam literatur Abhidhamma, selain atas Empat Kebenaran Mulia, avijjā juga merujuk pada ketidaktahuan atas 'kehidupan pra-kelahiran lampau' dan 'kehidupan masa depan pasca-kematian' seseorang, dan atas kemunculan yang bergantung.

Mahāyāna

Tradisi Mahāyāna menganggap ketidaktahuan (avidyā) tentang hakikat realitas dan kehidupan lampau yang tak berawal sebagai sebuah kekuatan primordial (asali), yang hanya dapat dipatahkan melalui pengetahuan (prajñā) tentang Kekosongan (śūnyatā). Namun, menurut Jens Braarvig, dibandingkan dengan tradisi Buddhis lainnya, avidyā tidak begitu ditekankan; sebaliknya, penekanan lebih diberikan pada upaya "mengonstruksi realitas ilusi" berdasarkan konseptualisasi, padahal realitas tertingginya adalah Kekosongan.

Avidyā adalah kekotoran terbesar dan penyebab utama penderitaan serta kelahiran kembali. Pengetahuann tentang Kekosongan, menurut Garfield dan Edelglass, yaitu "ketiadaan sifat intrinsik (inherent nature) dari semua fenomena, termasuk diri, memutus kekotoran batin"; pengetahuan tentang Kekosongan tersebut menghasilkan pencerahan penuh.

Vajrayāna

Tradisi Vajrayāna menganggap ketidaktahuan sebagai belenggu keterikatan dalam samsara, dan ajaran-ajarannya berfokus pada jalan Tantra di bawah bimbingan seorang guru untuk melenyapkan avidyā dan mencapai pembebasan dalam satu masa kehidupan.

Avidyā diidentifikasi sebagai mata rantai pertama dari dua belas sebab musabab yang saling bergantungan—serangkaian mata rantai yang menjelaskan mengapa suatu makhluk bereinkarnasi dan tetap terikat dalam samsara, yaitu siklus kelahiran dan kematian berulang di enam alam kehidupan.

Referensi

Sumber-sumber

  • Robert Buswell; Donald Lopez (2013), Princeton Dictionary of Buddhism, Princeton, NJ: Princeton University Press, ISBN 9780691157863
  • Conze, Edward (2013), Buddhist Thought in India: Three Phases of Buddhist Philosophy, Routledge, ISBN 978-1-134-54231-4
  • Edelglass, William; et al. (2009), Buddhist Philosophy: Essential Readings, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-532817-2
  • Gethin, Rupert (1998), Foundations of Buddhism, Oxford University Press
  • Harvey, Peter (1990), An Introduction to Buddhism, Cambridge University Press
  • Peter Harvey (2013), The Selfless Mind: Personality, Consciousness and Nirvana in Early Buddhism, Routledge, ISBN 978-1-136-78329-6
  • Keown, Damien (2013). Buddhism: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-966383-5.
  • Trainor, Kevin (2004), Buddhism: The Illustrated Guide, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-517398-7
  • Williams, Paul; Tribe, Anthony (2000), Buddhist Thought: A Complete Introduction to the Indian Tradition, Routledge, ISBN 0-415207010
  • Ajahn Sucitto (2010). Turning the Wheel of Truth: Commentary on the Buddha's First Teaching. Shambhala.
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Chogyam Trungpa (1972). "Karma and Rebirth: The Twelve Nidanas, by Chogyam Trungpa Rinpoche." Karma and the Twelve Nidanas, A Sourcebook for the Shambhala School of Buddhist Studies. Vajradhatu Publications.
  • Dalai Lama (1992). The Meaning of Life, translated and edited by Jeffrey Hopkins, Boston: Wisdom.
  • Mingyur Rinpoche (2007). The Joy of Living: Unlocking the Secret and Science of Happiness. Harmony. Kindle Edition.
  • Sonam Rinchen (2006). How Karma Works: The Twelve Links of Dependent Arising, Snow Lion.

Bacaan lanjutan

  • Avijjā and Āsava, Surendranath Dasgupta, 1940
  • Daniel Goleman: Vital Lies, Simple Truths: The Psychology of Self Deception (1985) Bloomsbury Publishing. ISBN 978-0-7475-3413-6
  • Avijja Sutta, diterjemahkan dari bahasa Pali ke bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu

Pranala luar

Didahului oleh:
Jarāmaraṇa12 mata rantai
AvijjāDiteruskan oleh:
Saṅkhāra

Read next

In 38 languages

Text from Wikipedia, CC BY-SA 4.0 · Source article