factograf
ID

artikel daftar Wikimedia

Efek pandangan menyeluruh

Efek pandangan menyeluruh

Efek pandangan menyeluruh (overview effect) adalah pergeseran kognitif yang dilaporkan oleh sejumlah astronot saat menyaksikan Bumi dari luar angkasa. Para peneliti mengarakterisasi efek ini sebagai "keadaan kekaguman dengan kualitas transendensi diri, yang dipicu oleh stimulus visual yang sangat mencolok". Aspek umum yang paling menonjol dari pengalaman pribadi menyaksikan Bumi dari luar angkasa adalah apresiasi dan persepsi atas keindahan, emosi yang tidak terduga dan bahkan sangat mendalam, serta meningkatnya rasa keterhubungan dengan sesama manusia dan Bumi secara keseluruhan. Efek ini dapat memicu perubahan pada konsep diri dan sistem nilai pengamat, serta dapat berdampak transformatif. Simulasi realitas maya yang imersif telah dirancang untuk mencoba memicu efek pandangan menyeluruh pada partisipan yang berada di Bumi.

Karakteristik

Astronaut Tracy Caldwell Dyson sedang "menatap Bumi" di modul Cupola Stasiun Luar Angkasa Internasional, sebuah praktik yang ditemukan memiliki efek psikologis positif serta sangat penting dalam menghadapi tuntutan penerbangan luar angkasa.
Astronaut Tracy Caldwell Dyson sedang "menatap Bumi" di modul Cupola Stasiun Luar Angkasa Internasional, sebuah praktik yang ditemukan memiliki efek psikologis positif serta sangat penting dalam menghadapi tuntutan penerbangan luar angkasa.

Secara umum, Yaden dkk. (2016) menyatakan bahwa aspek umum paling menonjol dari pengalaman para astronot adalah apresiasi dan persepsi atas keindahan, emosi yang tidak terduga dan bahkan sangat mendalam, serta meningkatnya rasa keterhubungan dengan sesama manusia dan Bumi secara keseluruhan. Yaden dkk. mengajukan bahwa efek pandangan menyeluruh dapat dipahami melalui konsep kekaguman dan transendensi diri, yang mereka deskripsikan sebagai "salah satu aspek paling mendalam dan berdaya dalam pengalaman manusia". Secara lebih spesifik, mereka menulis bahwa efek ini mungkin paling tepat dipahami sebagai "keadaan kekaguman dengan kualitas transendensi diri, yang dipicu oleh stimulus visual yang sangat mencolok". Yaden berpendapat bahwa efek pandangan menyeluruh memicu kekaguman melalui keluasan perseptual (seperti melihat Grand Canyon) maupun keluasan konseptual (seperti merenungkan gagasan besar seperti keabadian).

Yaden dkk. (2016) menulis bahwa sejumlah astronot yang menyaksikan Bumi dari luar angkasa "melaporkan emosi yang sangat mendalam dan perasaan mengidentifikasikan diri dengan umat manusia serta planet ini secara keseluruhan". Efek ini dapat memicu perubahan pada konsep diri dan sistem nilai pengamat, serta terkadang berdampak transformatif. Voski (2020) menunjukkan pengaruh nyata terhadap sikap dan perilaku lingkungan para astronot, serta melahirkan tingkat kesadaran lingkungan yang baru. Meskipun astronot Leland Melvin mengatakan bahwa efek ini tampaknya dialami oleh para astronot tanpa memandang budaya atau negara asal, Yaden dkk. mengamati bahwa perbedaan budaya, termasuk perbedaan identitas keagamaan dan sosial, memengaruhi cara efek tersebut dialami dan ditafsirkan. Ungkapan alaminya berkisar dari yang bersifat keagamaan, "spiritual secara samar", naturalistik, hingga panggilan tugas sosial.

Penulis Frank White, yang pada dekade 1980-an mencetuskan istilah overview effect (efek pandangan menyeluruh) setelah mewawancarai banyak astronot, menyatakan bahwa efek pandangan menyeluruh "tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata" dan membutuhkan pengalaman langsung untuk dapat dipahami, bahkan menyerupakannya dalam hal ini dengan Buddhisme Zen. Ia mengatakan bahwa pemandangan pertama para astronot terhadap planet ini umumnya sangat bermakna, seraya menambahkan bahwa sebagian astronot mengalaminya "dalam sekejap" sementara bagi yang lain efek itu tumbuh seiring waktu; dan secara umum efek tersebut "memang terakumulasi".

Tidak semua astronot mengalami efek pandangan menyeluruh. Lebih lanjut, White membedakan pengalaman di orbit Rendah Bumi tempat planet ini memenuhi sebagian besar pandangan astronot, dari pengalaman di Bulan tempat seseorang melihat seluruh Bumi "dengan latar belakang seluruh kosmos". Ia menggambarkan "perbedaan besar" antara astronot profesional yang berfokus pada misi mereka, dengan orang-orang yang belakangan ini pergi ke luar angkasa "dengan niat untuk mendapatkan pengalaman" dan mungkin sudah mengetahui tentang efek pandangan menyeluruh.

Karakterisasi alternatif

Sejak awal dekade 2010-an, sejarawan sains Jordan Bimm menentang penafsiran White bahwa efek pandangan menyeluruh merupakan, menurut Bimm, "efek mental yang dihasilkan secara konsisten, yaitu sebuah fenomena alami yang terjadi antara lingkungan dan pikiran manusia". Sebaliknya, Bimm menegaskan bahwa efek tersebut merupakan "objek yang bersifat alami sekaligus kultural" yang bervariasi pada individu tertentu, budaya yang berbeda, dan rentang waktu yang beragam. Sebagai tahap awal, Bimm mencatat bahwa penelitian mengenai fenomena terlepas ber-pengalaman negatif pada pilot uji masa awal telah berakhir pada tahun 1973 (tergeser oleh "narasi konversi positif" gagasan White), bahwa para astronot dalam budaya "berbohong demi bisa terbang" (lie to fly) merasakan tekanan karier sehingga enggan melaporkan reaksi psikologis negatif, serta bahwa individu yang telah mengetahui efek pandangan menyeluruh dapat menjadikannya sebagai ramalan yang terbukti dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy). Ia berpendapat bahwa mentalitas Perang Dingin dan semangat penguasaan atas Bumi dari supremasi teknologi Barat-lah yang berkontribusi pada munculnya konsep-konsep dunia tanpa batas seperti Hipotesis Gaia, kapal ruang angkasa Bumi, dan The Blue Marble.

Bimm menyampaikan kekhawatiran atas pandangan White bahwa efek tersebut mencerminkan dorongan alami bagi manusia untuk melakukan perjalanan dan kolonisasi luar angkasa. Bimm menyebut sikap itu menyerupai konsep takdir nyata Amerika pada abad ke-18 yang bersifat kolonialis dan ekspansionis. Bimm memperingatkan adanya keangkuhan yang melandasi persepsi seolah-olah telah mencapai tingkat pencerahan baru, yang ia sebut sebagai "efek overlord".

Sejarah

The Blue Marble, pemandangan Bumi sebagaimana dilihat oleh awak Apollo 17 pada tahun 1972. Foto-foto awal Bumi yang diabadikan dari luar angkasa mengilhami versi ringan dari efek pandangan menyeluruh pada masyarakat awam di Bumi, serta menjadi simbol utama…
The Blue Marble, pemandangan Bumi sebagaimana dilihat oleh awak Apollo 17 pada tahun 1972. Foto-foto awal Bumi yang diabadikan dari luar angkasa mengilhami versi ringan dari efek pandangan menyeluruh pada masyarakat awam di Bumi, serta menjadi simbol utama…

Astronom Inggris Fred Hoyle menulis pada tahun 1948 bahwa, "begitu foto Bumi yang diambil dari luar tersedia, sebuah gagasan baru yang sekuat apa pun dalam sejarah akan terlepas". Setelah foto Earthrise karya astronot Apollo 8 William Anders diabadikan dari orbit Bulan pada Desember 1968, misi-misi Apollo diakui telah mengilhami lahirnya gerakan lingkungan, dengan Hari Bumi pertama diselenggarakan pada April 1970. Hoyle menyatakan bahwa orang-orang secara tiba-tiba tampak peduli untuk melindungi lingkungan alam Bumi, meskipun pihak lain mengaitkan kesadaran tersebut dengan buku karya Rachel Carson tahun 1962, Silent Spring, serta reaksi terhadap sejumlah bencana lingkungan pada dekade 1960-an.

Istilah overview effect (efek pandangan menyeluruh) dicetuskan oleh penulis sekaligus peneliti Frank White, yang mengaku pertama kali merasakan "pengalaman ringan" dari efek tersebut saat terbang melintasi negara dan memandang keluar dari jendela pesawat. Pengalaman itu mendorongnya untuk membayangkan hidup di dalam Silinder O'Neill (habitat di luar angkasa), yang kemudian mengilhaminya untuk terlibat dengan Space Studies Institute dan mulai mewawancarai para astronot.

Wawancara White dengan para astronot menegaskan pentingnya perbedaan antara pengetahuan intelektual dan pengalaman langsung, persepsi tentang "tipisnya atmosfer yang sangat mencolok", kesadaran bahwa manusia saling terhubung dan menjadi bagian dari Bumi sebagai suatu sistem organik, serta bahwa kita sebagai manusia yang beragam "semuanya berada di sini bersama-sama". Penggunaan pertama istilah ini di hadapan publik muncul dalam sebuah poster pada pertemuan Space Studies Institute tahun 1985. Pada akhirnya, White menulis tentang efek ini dalam bukunya, The Overview Effect: Space Exploration and Human Evolution (1987), yang kini telah mencapai edisi keempat (2021). Karya White belum mendapatkan pengaruh yang luas hingga dekade 2010-an, sebuah periode yang ditandai oleh meningkatnya keterbelahan sosial serta hadirnya prospek baru perjalanan luar angkasa swasta.

Kesaksian

Foto Thin Blue Line ("Garis Biru Tipis") ini diambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada tahun 2009. Deskripsi penulis Frank White mengenai wawancaranya dengan para astronot menekankan persepsi mereka tentang "tipisnya atmosfer yang sangat mencolok".
Foto Thin Blue Line ("Garis Biru Tipis") ini diambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada tahun 2009. Deskripsi penulis Frank White mengenai wawancaranya dengan para astronot menekankan persepsi mereka tentang "tipisnya atmosfer yang sangat mencolok".
Spesialis misi Christina Koch mengalami efek pandangan menyeluruh dalam penerbangan Artemis II yang mengelilingi Bulan pada tahun 2026 (seperti yang terlihat dalam foto ini). Koch menuturkan, "Setiap orang yang Anda kenal ditopang hidupnya dan berada di dalam…
Spesialis misi Christina Koch mengalami efek pandangan menyeluruh dalam penerbangan Artemis II yang mengelilingi Bulan pada tahun 2026 (seperti yang terlihat dalam foto ini). Koch menuturkan, "Setiap orang yang Anda kenal ditopang hidupnya dan berada di dalam…
Foto Artemis II (7 April 2026) yang menyertai definisi Moon joy oleh NASA (10 April 2026)
Foto Artemis II (7 April 2026) yang menyertai definisi Moon joy oleh NASA (10 April 2026)
3 images

Michael Collins, Yuri Gagarin, Ron Garan, Chris Hadfield, James Irwin, Mae Jemison, Scott Kelly, Ed Gibson, André Kuipers, Jerry Linenger, Mike Massimino, Anne McClain, Leland Melvin, Edgar Mitchell, Sian Proctor, Rusty Schweickart, William Shatner, Nicole Stott, Ed Dwight, Cai Xuzhe, serta Jeremy Hansen termasuk di antara orang-orang yang dilaporkan telah mengalami efek ini.

Yuri Gagarin (Vostok 1; 1961) menulis, "Mengelilingi Bumi dengan kapal ruang angkasa, saya takjub akan keindahan planet kita. Wahai manusia, mari kita pelihara dan tingkatkan keindahan ini, jangan menghancurkannya!"

Michael Collins (Apollo 11; 1969) menyatakan bahwa "hal yang benar-benar mengejutkan saya adalah bahwa planet itu [Bumi] memancarkan kesan rapuh. Dan mengapa demikian, saya tidak tahu. Sampai hari ini pun saya tidak tahu. Saya merasa planet itu begitu mungil, berkilau, indah, sebuah rumah, dan sangat rapuh".

Edgar Mitchell (Apollo 14; 1971) menggambarkannya sebagai "ledakan kesadaran" dan "rasa keunggalan serta keterhubungan yang luar biasa mendalam... disertai oleh ekstasi... sebuah epifani".

Ed Gibson (Skylab 4; 1976) berkata, "Sama sekali tidak ada alasan bagi kita di Bumi, atau kelompok mana pun, atau negara mana pun, untuk menganggap diri kita terisolasi. [...] Kita semua benar-benar berada di sini bersama-sama".

Sehari sebelum wafat, Wubbo Ockels (STS-61-A; 1985) merekam imbauan kepada masyarakat luas demi keberlanjutan lingkungan (yang menjadi fokus kariernya setelah penerbangan luar angkasanya), dengan menyebutkan perspektif luar biasa yang diperoleh dari mengamati Bumi dari luar angkasa.

William Shatner (Blue Origin NS-18, 2021) segera menyatakan sesaat setelah mendarat bahwa, "Setiap orang di dunia harus mengalami ini. [...] Selimut kebiruan itu... kain, selimut, kehangatan biru yang ada di sekeliling kita ini, kita berpikir, 'Oh, itu langit biru.' Lalu [...] seketika Anda melesat menembusnya, seolah-olah Anda menyingkap selimut saat tidur, lalu Anda memandang ke dalam kegelapan, ke dalam kelam yang pekat, dan Anda melihat ke bawah. Ada warna biru di bawah sana, dan kegelapan di atas sana, dan itu... Di sanalah sang ibu, Bumi, dan kenyamanan. Dan di sana, apakah di sana ada kematian? Saya tidak tahu. [...] Pengalaman ini begitu menyentuh bagi saya. Ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa."

Ed Dwight (Blue Origin NS-25, 2024) merenungkan pengalaman tersebut setelah penerbangan suborbitalnya, "Dari balik jendela, saya bisa melihat Bumi. Segala sesuatunya tampak teratur, rapi, menakjubkan, dan indah. Tidak ada pemisah antarnegara atau negara bagian. Dan Anda pun bertanya pada diri sendiri: Seindah apa pun semuanya ini, mengapa orang-orang yang tinggal di atasnya tidak bisa hidup rukun? Mengapa mereka tidak mau merawat tempat seindah ini?"

Ketika Cai Xuzhe (Shenzhou 19, 2024–2025) kembali ke Bumi setelah enam bulan tinggal di stasiun luar angkasa Tiongkok, ia berkata, "Di luar angkasa, kami menatap planet biru yang indah itu tak terhitung jumlahnya. Ini adalah rumah bersama bagi umat manusia dan perlu dilindungi oleh kita semua secara bersama-sama."

Selama misi penjelajahan mengelilingi Bulan Artemis II pada April 2026, sebuah cuitan NASA mencetuskan istilah Moon joy ("sukacita Bulan") sebagai "perasaan bahagia dan antusiasme luar biasa yang hanya berasal dari misi ke Bulan". Astronaut Jeremy Hansen menyatakan bahwa pengalaman tersebut menegaskan kembali keyakinannya bahwa hidup manusia bertujuan untuk menemukan "sukacita dalam saling menguatkan dengan menciptakan solusi bersama bukannya merusak", serta bahwa pemandangan dari luar angkasa itu "hampir seperti melihat bukti nyata" dari hal tersebut.

Dampak jangka panjang

Foto-foto Bumi yang diambil dari luar angkasa, yang dapat memicu versi ringan dari efek pandangan menyeluruh, telah menjadi simbol utama kepedulian lingkungan. Tampak dalam gambar: Demonstrasi Hari Bumi, 2010.
Foto-foto Bumi yang diambil dari luar angkasa, yang dapat memicu versi ringan dari efek pandangan menyeluruh, telah menjadi simbol utama kepedulian lingkungan. Tampak dalam gambar: Demonstrasi Hari Bumi, 2010.

Para peneliti telah menyadari bahwa pengalaman yang berlandaskan rasa kagum, seperti interaksi dengan alam, pengalaman keagamaan, spiritual, atau mistis, meditasi, serta pengalaman puncak dan alir selama pelaksanaan tugas berkinerja tinggi, dapat mengubah seseorang dan mendorong munculnya perasaan bersatu atau keterhubungan. Gallagher dkk. (2015) mendefinisikan serangkaian kategori konsensus untuk kekaguman yang mencakup terpikat oleh pemandangan atau tertarik pada fenomena tersebut, pengalaman kegembiraan luar biasa, keinginan untuk merasakan pengalaman itu lebih banyak, perasaan diliputi emosi, serta efek skala, yaitu perasaan akan luasnya alam semesta atau kecilnya diri sendiri saat berhadapan dengan keluasan tersebut. Selain menjadi pengalaman yang menyenangkan, fenomena semacam itu dapat memberikan dampak positif jangka pendek dan jangka panjang, seperti meningkatnya kesejahteraan, sikap prososial dan prolingkungan, serta perbaikan kesehatan fisik. Pengalaman transendensi diri dapat memicu perubahan jangka panjang dalam pandangan pribadi, serta dapat memengaruhi kesadaran diri seseorang dengan memengaruhi skema diri mereka ("kerangka kerja khusus yang melaluinya orang-orang membayangkan diri mereka dalam hubungannya dengan dunia").

Secara khusus, Frank White mencatat bahwa sekembalinya ke Bumi, beberapa astronot menjadi terlibat dalam kegiatan kemanusiaan atau menjadi seniman, seperti astronot Edgar Mitchell yang mendirikan Institute of Noetic Sciences. Meskipun Yaden dkk. (2016) mencatat bahwa pengalaman tersebut dapat berdampak transformatif, White menyatakan pada tahun 2019 bahwa secara umum tidak ada "transformasi dramatis" atau "aksi pawai perdamaian", melainkan efek jangka panjangnya terasa lebih halus.

Sebuah survei kuesioner pada tahun 2018 terhadap 39 astronot dan kosmonot menemukan bahwa perubahan humanistik lebih mendominasi daripada perubahan spiritual. Secara khusus, survei tersebut menemukan tingkat perubahan sedang pada subskala Persepsi tentang Bumi (Bumi sebagai "objek indah dan rapuh yang harus dihargai"), yang berkorelasi secara signifikan dengan keterlibatan mereka selanjutnya dalam gerakan lingkungan. Sebaliknya, survei tersebut menemukan "tidak ada hingga sangat sedikit perubahan" pada subskala Perubahan Spiritual, yang menurut para peneliti kemungkinan mencerminkan nilai-nilai yang sudah tertanam sebelum peluncuran.

Sesaat setelah penerbangan Blue Origin pada Oktober 2021, William Shatner menyampaikan kepada pendiri perusahaan tersebut, Jeff Bezos, "Apa yang telah Anda berikan kepada saya adalah pengalaman yang paling mendalam. Saya berharap tidak akan pernah pulih dari rasa ini. Saya berharap dapat mempertahankan apa yang saya rasakan sekarang." Namun, pada Oktober 2022 ia menceritakan bahwa membutuhkan waktu berjam-jam baginya untuk menyadari mengapa ia menangis setelah keluar dari wahana antariksa: "Saya menyadari bahwa saya sedang berduka untuk Bumi." Ia kemudian berkata bahwa "Saya melihat dengan lebih jelas dari yang pernah saya rasakan... kematian lambat Bumi dan kita di atasnya." Biografinya, Boldly Go, menceritakan bahwa "itu adalah salah satu perasaan duka terdalam yang pernah saya alami. Kontras antara dinginnya luar angkasa yang kejam dan kehangatan Bumi yang mengayomi di bawah sana memenuhi diri saya dengan kesedihan yang luar biasa mendalam. Setiap hari, kita dihadapkan pada kenyataan akan kehancuran Bumi yang terus berlanjut di tangan kita sendiri... Hal itu memenuhi diri saya dengan ketakutan. Perjalanan saya ke luar angkasa seharusnya menjadi sebuah perayaan; alih-alih demikian, rasanya seperti sebuah pemakaman."

Pada satu kesempatan, awak Skylab 4 (dekade 1970-an) sempat menolak untuk bekerja, dengan menegaskan, sebagaimana disampaikan oleh direktur penerbangan, "kebutuhan mereka untuk merenung, mengamati, serta menemukan posisi mereka di tengah pengalaman yang membingungkan, memikat, dan belum pernah terjadi sebelumnya ini". Peristiwa ini, ditambah dengan penelitian yang menunjukkan bahwa secara aktif memotret Bumi memberikan efek psikologis positif, mendorong Yaden dkk. mengajukan anggapan bahwa mempelajari efek pandangan menyeluruh dapat meningkatkan pemahaman mengenai kesejahteraan psikologis di lingkungan yang terisolasi, terbatas, dan ekstrem (ICE), seperti penerbangan luar angkasa.

Foto-foto awal Bumi yang diambil dari luar angkasa telah mengilhami versi ringan dari efek pandangan menyeluruh pada khalayak di Bumi. Foto-foto tersebut menjadi simbol utama kepedulian lingkungan dan diakui telah meningkatkan kesadaran publik mengenai kerentanan Bumi serta memperluas kepedulian terhadap kelangsungan hidup jangka panjang di planet yang terbatas ini.

Pengalaman yang terus terakumulasi dari para astronot dan wisatawan luar angkasa mengilhami keinginan kuat pada banyak dari mereka untuk melindungi Bumi dengan mengomunikasikan perspektif luas yang mereka peroleh secara aktif, misalnya dengan berbicara di konferensi tingkat tinggi iklim internasional. Pihak Virgin Galactic secara khusus menyebut efek pandangan menyeluruh sebagai motivasi untuk membawa orang ke tepi luar angkasa, demi mengubah secara mendasar cara pandang orang-orang terhadap planet rumah mereka. Namun, para pengkritik mencatat bahwa perjalanan luar angkasa yang diperlukan untuk merasakan efek pandangan menyeluruh secara langsung justru melibatkan pencemaran lingkungan yang signifikan. Pendekatan yang lebih minim polusi adalah dengan mensimulasikan efek tersebut di Bumi menggunakan teknologi realitas maya.

Mensimulasikan efek

Modul keliling Spacebuzz menggunakan teknologi realitas maya untuk mensimulasikan penerbangan luar angkasa bagi anak-anak.
Modul keliling Spacebuzz menggunakan teknologi realitas maya untuk mensimulasikan penerbangan luar angkasa bagi anak-anak.

Para peneliti menemukan bahwa teknologi realitas maya dapat membangkitkan komponen-komponen pengalaman berbasis rasa kagum serta memicu pergeseran kognitif minor pada pandangan dunia partisipan, serupa dengan yang terjadi pada efek pandangan menyeluruh. Rasa aman yang dirasakan, latar belakang pribadi dan keakraban dengan lingkungan, serta pemicuan reaksi rasa takut naluriah tingkat ringan ditemukan sebagai kontributor utama bagi pengalaman yang imersif tersebut. Studi VR hingga tahun 2019 belum mengamati adanya pengalaman transformatif dalam skala yang setara dengan efek pandangan menyeluruh itu sendiri, tetapi pengalaman VR dapat memicu respons emosional yang mendalam seperti rasa kagum.

Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa pengalaman virtual memicu "pengalaman transformatif minor pada beberapa partisipan", termasuk apresiasi terhadap keindahan dan keluasan, kesadaran akan saling keterhubungan, serta potensi niat untuk mengubah perilaku seseorang. Dengan menyadari tahap perkembangan teknologi VR yang relatif masih awal, para peneliti mengimbau agar pengetahuan mengenai pengalaman transformatif yang mendalam dimanfaatkan untuk mendorong perancangan instalasi VR, dan setelahnya mempelajari pengalaman VR itu sendiri sebagai suatu fenomena tersendiri.

Pada 24 Desember 2018, yang bertepatan dengan peringatan 50 tahun hari pertama saat manusia menyaksikan Bumi terbit dengan mata kepala mereka sendiri, proyek Spacebuzz diluncurkan di Hilversum, Belanda. Di dalam sebuah kendaraan bergerak berbentuk roket sepanjang lebih dari 15 meter (49 ft), sembilan kursi bergerak dan set kepala realitas maya (VR) milik Spacebuzz mensimulasikan penerbangan luar angkasa dalam sebuah pengalaman yang dirancang khusus untuk anak-anak.

Para peneliti di Universitas Missouri mencoba mereproduksi pengalaman tersebut menggunakan tangki isolasi sensorik dan set kepala VR kedap air.

"The Infinite" menyajikan simulasi berdurasi satu jam rasanya berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan rekaman 3D 360 derajat buatan astronot dari film VR Space Explorers: The ISS Experience. Para pengunjung berbagi area seluas 12,500-kaki-persegi (1,1613 m2) yang memungkinkan mereka menjelajahi ISS secara fisik dan memandang ke luar.

Sebuah model tiga dimensi Bumi berdiameter 7 meter (23 ft), yang dibuat dari citra rinci NASA dan tampak mengapung di udara, melakukan tur di Britania Raya pada tahun 2022, di mana instalasi tersebut "bertujuan menciptakan sensasi Efek Pandangan Menyeluruh".

Nama lain

Efek pandangan menyeluruh juga pernah disebut sebagai big picture effect ("efek gambaran besar") oleh Edgar Mitchell, orbital perspective ("perspektif orbital") oleh Ronald J. Garan Jr., serta the astronaut's secret ("rahasia astronot") oleh Albert Sacco.

Merujuk pada betapa mendalamnya pengalaman Mitchell di Bulan, yang dibedakan dari pengalaman di orbit Rendah Bumi, penulis Frank White menyebut pengalaman Mitchell sebagai universal insight ("wawasan universal") karena memiliki perspektif yang lebih universal.

Efek terkait

Sebuah artikel tahun 1957 dalam The Journal of Aviation Medicine mengkaji fenomena terlepas (break-off phenomenon), yang didefinisikan sebagai "perasaan terpisah secara fisik dari Bumi ketika menerbangkan pesawat di ketinggian tinggi". Faktor pemicu utamanya disimpulkan meliputi: terbang sendirian, berada di ketinggian tinggi, serta memiliki relatif sedikit kegiatan yang dilakukan. Para peneliti merangkum deskripsi para pilot sebagai "perasaan terisolasi, terlepas, atau terpisah secara fisik dari Bumi" atau sebagai persepsi "seolah-olah kehilangan keterhubungan mereka dengan dunia". Reaksi individu berkisar dari kegembiraan luar biasa atau merasa lebih dekat dengan Tuhan, hingga kecemasan, ketakutan, atau kesepian. Alan Shepard melaporkan merasa biasa saja, sementara yang lain melaporkan merasa lebih terikat dengan wahana antariksa ketimbang dengan Bumi, efek yang ditafsirkan oleh seorang peneliti sebagai konsep disorientasi. Literatur ilmiah yang membahas fenomena terlepas ini berakhir pada tahun 1973.

Antropolog Deana L. Weibel memperkenalkan istilah ultraview effect ("efek pandangan ultra") sebagai respons terhadap pemandangan bintang-bintang tanpa penghalang, sebuah efek yang ia simpulkan dialami lebih jarang daripada efek pandangan menyeluruh. Berbeda dengan rasa keterhubungan pada efek pandangan menyeluruh, efek pandangan ultra merespons keterbatasan pengetahuan kita, memicu "sensasi ketidakpahaman yang berdampak transformatif serta perasaan mengecil atau pengerutan diri".

Frank White mengajukan istilah Copernicus Perspective ("Perspektif Kopernikus"), yaitu kesadaran menjadi bagian dari Tata Surya ketika seseorang berada di planet lain.

Sejarawan sains Jordan Bimm menjelaskan bagaimana konsep tersebut memiliki kemiripan dengan konsep keagungan (the sublime) dalam tradisi Britania, yaitu sebuah pengalaman yang dikaitkan dengan pemandangan dari pegunungan tinggi.

Sejumlah akuanot yang tinggal dan bekerja di bawah air dalam jangka waktu lama melaporkan adanya pergeseran kognitif tentang cara mereka memandang lingkungan lautan dan peran mereka di dalamnya, yang memperkuat perasaan keterhubungan dan komitmen terhadap lingkungan bahari. Sebagai hasilnya, pengalaman ini disebut sebagai underview effect ("efek pandangan bawah"), yang merujuk pada efek pandangan menyeluruh para astronot karena kemiripannya.

Lihat pula

  • Kesadaran kolektif
  • Bumi dalam budaya
  • Fase Bumi
  • Efek penerbangan luar angkasa pada tubuh manusia
  • Langit ekstraterestrial
  • Pale Blue Dot
  • Noctcaelador
  • Panorama
  • The Real
  • Skala (alat analitis)
  • Space For Humanity
  • Kapal ruang angkasa Bumi
  • Psikologi luar angkasa

Bacaan lanjutan

  • White, Frank (2014). The Overview Effect — Space Exploration and Human Evolution. Reston, Virginia: American Institute of Aeronautics and Astronautics. ISBN 978-1-62410-262-2.

Pranala luar

  • Overview Institute
  • Overview, short film from Planetary Collective
  • "Speech on the Overview Effect and Its Importance in Civilization", five-minute talk by JP Chastain at Ignite Boise (2012)
  • An astronaut's view of Earth by the Royal Institution (alternatively on TKSST or directly on YouTube)

In 22 languages

Text from Wikipedia, CC BY-SA 4.0 · Source article